PENGARUH AKTIVA
PAJAK TANGGUHAN DAN BEBAN PAJAK TANGGUHAN TERHADAP KINERJA LAPORAN KEUANGAN
( Studi Pada Perusahaan Textil
Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2018 )
Diajukan
guna melengkapi sebagian syarat dalam mencapai gelar Sarjana Strata Satu ( S1 )
Disusun Oleh :
Nama : Rani Anjaeni
NPM : 16140737
Program Studi : Akuntansi S1
PROGRAM
STUDI AKUNTANSI
STIE INTERNASIONAL GOLDEN
INSTITUTE
JAKARTA
2020
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Penyusunan laporan keuangan oleh
manajemen bertujuan untuk menyampaikan informasi mengenai kondisi keuangan dan
ekonomi perusahaan pada periode tertentu. Laporan keuangan merupakan suatu
gambaran mengenai kondisi perusahaan karena di dalam laporan keuangan terdapat
informasi-informasi yang dibutuhkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan
perusahan dan menjadi alat yang menghubungkan pihak-pihak tersebut. Laporan
keuangan mampu menggambarkan posisi keuangan dan hasil perusahaan pada saat
tertentu secara wajar. Laporan keuangan yang disusun secara baik dan akurat
dapat memberikan gambaran keadaan yang nyata mengenai prestasi yang telah
dicapai oleh suatu perusahaan dalam kurun waktu tertentu. Laporan keuangan
merupakan hasil dari proses akuntansi yang disajikan dalam bentuk kuantitatif,
yang mana informasi-informasi yang disajikan di dalamnya dapat membantu
berbagai pihak, baik dalam maupun luar perusahaan untuk mengambil keputusan
yang sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup perusahaan. Laporan keuangan
yang
dihasilkan perusahaan merupakan salah satu
informasi yang dapat digunakan dalam menilai kinerja perusahaan, laporan keuangan
menurut pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan (PSAK, 2007) No.1 tentang penyajian laporan keuangan memiliki
komponen-komponen seperti : Neraca, laporan laba rugi, laporan ekuitas, laporan
arus kas, dan catatan atas laporan keuangan. Demikian halnya dengan aspek
perpajakan yang juga perlu diperhitungkan dalam konteks pengambilan keputusan
terkait prestasi atau kegagalan perusahaan dalam menghasilkan laba, seberapa
besar kewajiban perusahaan kepada negara karena berkaitan dengan beban pajak
yang harus diperhitungkan untuk setiap pembuatan keuputusan keuanan sehingga
berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan dimasa yang akan datang,
misalnya perusahaan dalam hal melakukan atau tidak melakukan investasi, menyewa
atau membeli harta bergerak perusahaan guna kegiatan operasionalnya dengan
turut mempertimbangkan besar kecilnya jumlah pajak yang hasus disetorkan kepada
negara. Beban pajak kini merupakan beban pajak penghasilan perusahaan yang
dihitung berdasarkan tarif pajak penghasilan dikalikan dengan laba fiskal,
yaitu laba akuntansi yang telah dikoreksi agar sesuai dengan ketentuan. Kajian
dalam penelitian ini khususnya membahas tentang aktiva pajak tangguhan, beban
pajak dan laporan keuangan. Karena pada dasarnya setiap perusahaan berusaha
meningkatkan profit dalam angka yang maksimum namun menginginkan angka yang
minimum dalam pembayaran pajaknya, oleh karena itu manajer perusahaan melakukan
manajemen laba terhadap pelaporan keuangan untuk meminimumkan beban pajak yang
harus dikeluarkan oleh perusahaan.
PSAK No. 46 (revisi 2010) menyatakan
aktiva pajak tangguhan adalah jumlah pajak penghasilan yang dapat dipulihkan
pada periode masa depan sebagai akibat adanya perbedaan temporer yang boleh
dikurangkan, akumulasi rugi pajak belum dikompensasi dan akumulasi kredit pajak
belum dimanfaatkan, dalam hal peraturan perpajakan mengijinkan. Aktiva pajak
tangguhan dapat disamakan seperti lebih bayar pajak, yang akan diganti di masa
yang akan datang pada saat pemulihan perbedaan temporer.
Sebagai contoh kasus pada PT. PLN
(PERSERO) Distribusi Bali. Setelah dilakukakn pemeriksaan pajak, didapatkan
hasil yang berupa pajak penghasilan fiskal pada tahun 2003 sebesar
Rp616.206.533.565,- dan pada tahun 2004 sebesar Rp 120.344.177.465,-. Pajak
tangguhan yang ada di PT. PLN (PERSERO) Distribusi Bali untuk aktiva pajak
tangguhan tahun 2003 Rp 184.861.966.070,- dan kewajiban Pajak Tangguhan Tahun 2003
sebesar Rp 65.002.051.320,-. Tahun 2004 Aktiva Pajak Tangguhan sebesar Rp
36.103.253.240,- kewajiban Pajak Tangguhan Tahun 2004 sebesar Rp Pajak
Tangguhan Tahun 2004 sebesar Rp7.515.162.581,-. Pada saat diadakan Koreksi
Fiskal atas Laporan Laba Rugi Tahun 2003 ditemukan adanya selisih sebesar Rp
57.366.518.774,- lebih besar menurut fiskal dari pada Laporan Keuangan
Perusahaan. Pada tahu 2004 juga ditemukan selisih yang lebih besar fiskal dari
pada Laporan Keuangan Perusahaan sebesar
Rp 48.766.124.690,-. Pada Laporan Keuangan PT. PLN (Persero) (Laidian,2004).
Hal ini menujukan bahwa pajak tangguhan dijadikan celah oleh manajemen untuk
mempengaruhi besarnya pajak penghasilan yang seharusnya dibayarkan.
Kewajiban
pajak tangguhan (deferred tax liabilities)
adalah jumlah pajak penghasilan yang terutang untuk periode mendatang sebagai
akibat adanya perbedaan temporer kena pajak (purba, 2009:35), sedangkan aktiva
pajak tangguhan adalah aktiva yang terjadi apabila perbedaan waktu menyebabkan
koreksi positif yang berakibat beban pajak menurut akuntansi komersil lebih
kecil dibanding beban pajak menurut undang-undang pajak (waluyo, 2008:217),
beban pajak tangguhan dan aktiva pajak tangguhan memungkinkan perusahaan untuk
memanfaatkan celah dalam merekayasa laporan keuangannya. Beban pajak tangguhan
mengakibatkan tingkat laba yang diperoleh menurun dan aktiva pajak tangguhan
yang jumlahnya diperbesar oleh manajemen memiliki peluang yang lebih besar
untuk mendapatkan laba yang lebih besar dimasa yang akan datang sehingga
mengurangi besarnya pajak yang dibayarkan.
Berdasarkan
latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka penulis tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul “PENGARUH
AKTIVA PAJAK TANGGUHAN DAN BEBAN PAJAK TANGGUHAN TERHADAP KINERJA LAPORAN
KEUANGAN (studi pada perusahaan Textil yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Periode 2015-2018)”.
2.1
Rumusan Masalah
Dengan memanfaatkan peran lembaga adalah agar
kualitas kinerja laporan keuangan dapat lebih mudah dipahami oleh pemodal
sehingga perusahaan berkinerja rendah mudah terlihat. Namun permasalahan timbul
ketika kepemilikan pajak tangguhan yang besar dan bernilai positif dan negatif
serta beban pajak yang besar maupun kecil mempengaruhi penetuan tinggi
rendahnya rating kualitias kinerja laporan keuangan. Berdasarkan latar belakang
masalah, rumusan masalah disusun sebagai berikut :
1
apakah aktiva pajak
tangguhan berpengaruh terhadap kinerja laporan keuangan pada perusahaan textil
di Bursa Efek Indonesia ?
2
apakah beban pajak
berpengaruh terhadap kinerja laporan keuangan pada perusahaan textil di Bursa
Efek Indonesia ?
3
apakah aktiva pajak
tangguhan dan beban pajak secara bersama-sama dapat berpengaruh terhadap
kinerja laporan keuangan pada perusahaan textil yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia ?
3.1 Tujuan Penelitian
Tujuan
yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah :
1
pengaruh aktiva
pajak tangguhan terhadap kinerja laporan keuangan pada perusahaan textil yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia
2
pengaruh beban
pajak terhadap kinerja laporan keuangan pada perusahaan textil yang terdaftar
di Bursa Efek Indonesia
4.1 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini
adalah sebagai berikut :
1
Manfaat Akademik
Penelitian ini diharapkan dapat
memberikan bukti empiris mengenai pengaruh anatara variabel-variabel yang dalam
hal ini adalah aktiva pajak tangguhan, beban pajak terhadap kinerja laporan
keuangan
2
Manfaat Praktek
Penelitian ini
juga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi investor untuk menambah
wawasan mengenai pasar modal terutama mengenai aktiva pajak tangguhan dan
beban pajak. Diharpak juga dapat memberikan
kontribusi untuk penelitian selanjutnya dalam hal pengembangan teori di masa
mendatang.
3
Manfaat Manajemen
Memberikan petunjuk
bagi manajemen perlunya kemampuan manajemen mengelola perbedaan temporer
sedemikian rupa sehingga laba akuntansi tetap dipersepsikan berkualitas atau
direspon positif oleh investor.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian dan Teori-Teori
2.1.1
Teori Agensi (Teori Agency)
Menurut Anthony dan
Govindarajan, (1995) dalam Suranggane, (2007:80) teori keagenan (teory agency) adalah economic rational man dan kontrak antara prinsipal dan agen dibuat
berdasarkan angka akuntansi sehingga menimbulkan konfilk kepentingan antara prinsipal
dan agen. Teori ini berusaha menggambarkan individu-individu untuk mencapai
keselarasan tujuan. Teori ini berusaha menggambarkan faktor-faktor utama yang
sebaiknya dipertimbangkan untuk merancang kontrak insentif.
Teori agensi
mengasumsikan bahwa semua individu memiliki kepentingan dan keinginan
sendiri-sendiri sehinnga mereka berusaha untuk memenuhi kepentingan sendiri
tersebut. Hal ini menyebabkan timbulnya konflik kepentingan antara principal dan agent. Pihak pemilik (principal)
termotivasi mengadakan kontrak untuk mensejahterakan dirinya dengan
profitabilitas yang selalu meningkat. Agent
termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhannkebutuhan ekonomi dan psikologisnya,
antara lain dalam hal memperoleh investasi, pinjaman, maupun kontrak kempensasi. Konflik kepentingan semakin
meningkat karena
pihak pemilik (pricipal) tidak dapat memonitor aktivitas manajemen sehari-hari. Untuk
memastikan bahwa manajemen bekerja sesuai dengan keinginan pemegang saham.
2.2
Pengertian Kinerja Keuangan
2.2.1 Kinerja Keuangan
Pengertian kinerja
(performance) menurut Drucker (2002, p134)
adalah tingkat prestasi atau hasil nyata yang dicapai, yang mana kadang-kadang
dipergunakan untuk memperoleh suatu hasil yang positif. Kinerja juga
didefinisika sebagai keberhasilan personel dalam mewujudkan sasaran strategik
dalam empat perspektif : keuangan, custumer, proses, serta pembelajaran dan
pertumbuhan. Dari pengertian tersebut maka dapat terlihat bahwa kinerja
perusahaan merupakan hasil keputusan-keputusan manajemen untuk mencapai suatu
tujuan tertentu secara efektif dan efisien. Untuk dapat memperoleh gambaran
tentang perkembangan kinerja perusahaan tersebut perlu mengadakan interpretasi
atau analisis terhadap data keuangan dari perusahaan yang bersangkutan dan data
keuangan itu akan tercemin di dalam laporan keuangan.
Pengertian
penilaian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “penilaian mempunyai arti
proses atau cara menilai. Dalam bahasa inggris, sering diartikan dengan kata measurement yang berarti system
pengukuran.” Pengukuran maupun penilaian kinerja adalah alat manajemen untuk
meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas.
Dengan demikian, pengertian penilaian
kinerja adalah suatu usaha formal yang dilakukan manajemen untuk mengevaluasi
hasil-hasil dari aktivitas-aktivitas yang telah dilaksanakan dan dibandingkan
dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya.
Menurut Husnan dan Pudjiastuti, 2012.
Terdapat beberapa alat ukur atau analisis yang dapat digunakan dalam penilaian
kinerja keuangan perusahaan, diantaranya:
1
Market Value Added (MVA)
2
Economic Value Added (EVA)
3
Analisis Common
Size
4
Analisis inddeks
5
Analisis Rasio
Keuangan
6
Analisis Keuangan
Sistem Dupont
7
Analisis Basic
Earnings Power
Kinerja keuangan
perusahaan berkaitan erat dengan pengukuran dan penilaian kinerja. Pengukuran
kinerja (perfoming measurement)
adalah kualifikasi dan efesiensi serta efektivitas perusahaan dalam
pengoperasian bisnis selama periode akuntansi. Adapun penilaian kinerja menurut
Srimindarti (2006:34) adalah penentuan efektivitas operasional, organisasi, dan
karyawan berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang telah di tetapkan
sebelumnya secara periodik. Menurut Munawir (2012:31) menyatakan bahwa tujuan
dari pengukuran kinerja keuangan perusahaan adalah :
1
Untuk mengetahui
tingkat likuiditas, yaitu kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban
keuangan yang harus segera dipenuhi, atas kemampuan perusahaan memenuhi
kewajiban keuangan saat ditagih
2
Untuk mengetahui
tingkat solvabilitas, yaitu kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban
keuntungannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi baik kewajiba keuangan
jangka pendek maupun keuangan jangka panjang
3
Mengetahui tingkat
rentabilitas kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba padda periode
tertentu, mengetahui stabilitas usaha yaitu kemampuan perusahaan untuk
melakukan usahanya dengan stabil dan mempertimbangkan kemampuan perusahaan
untuk membayar deviden secara teratur
4
Mengetahui tingkat
stabilitas menujukan kemampuan perusahaan untuk melakukan usahanya dengan
stabil, yang di ukur dengan mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk
membayar hutang-hutangnya serta membayar beban bunga atas hutang-hutangnya
tepat pada waktunya
2.3 Analisis
Kinerja Keuangan
Menurut Jumingan (2006:240)analisis kinerja keuangan merupakan proses
pengkajian secara kritis terhadap keuangan bank menyangkut review data,
menghitung, mengukur, menginterpretasi, dan memberi solusi terhadap keuangan pada
suatu periode tertentu. Dengan demikian, prosedur analisis meliputi tahapan sebagai berikut:
a. Review Data Laporan Aktivitas penyesuaian data laporan keuangan terhadap berbagai hal,
baiksifat atau jenis perusahaan yang melaporkan maupun sistem akuntansi yang berlaku.
Sistem akuntansi yang diterapkan dalam memberi pengakuan terhadap pendapatan dan
biaya akan menentukan jumlah pendapatan maupunlaba yang dihasilkan perusahaan.
Dengan demikian, kegiatan me-review merupakan jalan menuju suatu hasil analisis yang
memiliki tingkat pembiasaan yang relatif kecil.
b. Menghitung Dengan menggunakan berbagai metode dan teknik
analisis dilakukan perhitungan-perhitungan, baik metode perbandingan, persentase perkomponen,
analisis rasio keuangan, dan lain-lain. Dengan metode atauteknik apa yang akan digunakan
dalam perhitungan sangat bergantung pada tujuan analisis.
c. Membandingkan atau Mengukur Langkah berikutnya
setelah melakukan perhitungan adalah membandingkan atau mengukur. Langkah ini
diperlukan guna mengetahui.
Kinerja keuangan
dapat dinilai dengan beberapa alat analisis. Berdasarkan tekniknya, analisis
keuangan dapat dibedakan menjadi :
1
Analisis
Perbandingan Laporan Keuangan, merupakan teknik analisis dengan cara
membandingkan laporan keuangan dua periode atau lebih dengan menujukkan
perubahan, baik dalam jumlah (absolut) maupun persentase (relatif).
2
Analisis Tren,
merupakan teknik analisis untuk mengetahui tedensi keadaan keuangan apakah
menujukan kenaikan atau penurunan.
3
Analisis persentase
per-komponen (common size), merupakan
teknik analisis untuk mengetahui persentase investasi pada masing-masing aktiva
terhadap keseluruhan atau total aktia maupun utang.
4
Analisis Sumber dan
Penggunaan Modal Kerja, merupakan teknik analisis untuk mengetahui besarnya
sumber dan penggunaan modal kerja melalui dua periode waktu yang dibandingkan.
2.4
Penilaian Kinerja Keuangan
Bagi
investor, informasi mengenai kinerja keuangan perusahaan dapat digunakan untuk
melihat apakah mereka akan mempertahankan investasi mereka diperusahaan
tersebut atau mencari alternatif lain. Apabila kinerja perusahaan baik maka
nilai usaha akan tinggi. Dengan nilai usaha yang tinggi membuat para investor
melirik perusahaan tersebut untuk menanamkan modalnya sehingga akan terjadi
kenaikan harga saham. Atau dapat dikatakan bahwa harga saham merupakan fungsi dari
nilai perusahaan.
2.5
Laporan Keuangan
2.5.1 Pengertian Laporan Keuangan
Analisis laporan
keuangan merupakan suatu proses analisis terhadap laporan kauangan dengan
tujuan untuk memberikan tambahan informasi kepada para pemakai laporan keuangan
untuk pengambilan keputusan ekonomi, sehingga kualitas keputusan yang diambil
akan menjadi lebih baik.
2.5.2 Tujuan Laporan Keuangan
Menurut Harahap (2001;133)
menjelaskan tujuan laporan keuangan dengan membagi menjadi dua:
a. Tujuan
umum Menyajikan laporan posisi keuangan, hasil usaha, dan perubahan posisi
keuangan secara wajar sesuai prinsip akuntansi yang diterima.
b. Tujuan
khusus Memberikan informasi tentang kekayaan, kewajiban, kekayaan bersih,
proyeksi laba, perubahan kekayaan, serta informasi lainnya yang relevan.
2.5.3 Bentuk Laporan Keuangan
Laporan keuangan
menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat
teretntu. Bagi para analyst, laporan
keuangan merupakan media yang paling penting untuk meniilai prestasi dan
kondisi ekonomis suatu perusahaan, Sofyan Safri Harahap (1998 : 105)
1
Jenis Laporan Keuangan
Weston &
Copeland (1995 : 25) mengatakan dalam bukunya, bahwa gambaran yang lengkap
tentang aktivitas akutansi keuangan suatu perusahaan selama satu tahun terdiri
dari 3 laporan keuangan dasar, yaitu : (a) Neraca awal tahun memberikan
gambaran tentang perusahaan pada permulaan tahun pajaknya, ditambah neraca
akhir tahun yang memberikan gambaran tentang harta dan hutang, (b) Perhitungan
rugi laba menunjukkan arus pendapatan dan beban atau biaya selama interval
antara neraca awal dan akhir periode, (c) Laporan arus kas merinci
sumber-sumber perubahan kas dan ekuivalen kas selama intervak waktu yang sama
dengan perhitungan rugi laba.
2
Neraca
Neraca
adalah laporan yang sistematis tentang aktiva, hutang, serta modal
yangbertujuan untukmenunjukan posisi keuangan dari suatu perusahaan pada
periode tertentu. Menurut Baridwan(2005) Neraca adalah laporan yang menunjukan
keadaan keuangan suatu unit usaha pada tanggaltertentu, keadaan keuangan ini
ditunjukan dengan jumlah aset yang dimiliki perusahaan danjumlah kewajiban
perusahaan.Neraca mempunyai 3 laporan
keuangan, yaitu:
Aktiva adalah
sumber daya yang paling dikuasai oleh perusahaan, yang terdiri dari:
a.
Aktiva Lancar,
yaitu aktiva yang manfaat ekonominya diharapkan akan diperoleh dalam satu tahun
atau kurang (siklus operasi normal), misalnya kas, surat berharga, persediaan,
piutang dan persekot biaya
b.
Investasi Jangka
Panjang, yaitu penanaman modal yang biasanya dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh
penghasilan tetap atau untuk menguasai perusahaan lain dan jangka waktunya
lebih dari satu tahun, misalnya investasi saham, investasi obligasi
c.
Aktiva Tetap, yaitu
aktiva yang memiliki subtansi (wujud) fisik, digunakan dalam operasi normal
perusahaan dan memberikan manfaat ekonomi lebih dari satu tahun. Contohnya
adalah gedung, tanah, kendaraan, mesin dan peralatan.
d.
Aktiva Yang Tidak
Berwujud, yaitu aktiva yang tidak memiliki subtansi fisik dan biasanya berupa
hak istimewa yang memberikan manfaat ekonomi bagi perusahaan untuk jangka waktu
lebih dari satu tahun. Misalnya patent,
goodwill, royalty, copyright, franchise, dan license
Kewajiban yang merupakan utang
perusahaan masa kini, yang terdiri dari:
a.
Kewajiban Lancar,
yaitu kewajiban yang penyelesaiannya diharapkan akan mengakibatkan arus kas
keluar dari sumber daya perusahaan (yang memiliki manfaat ekonomi) dalam jangka
waktu satu tahun atau kurang. Termasuk dalam kategori kewajiban ini misalnya
utang dagang, utang wesel, utang gaji dan upah, utang pajak, dan utang biaya.
b.
Kewajiban Jangka
Panjang, yaitu kewajiban yang penyelesaiannya diharapkan akan mengakibatkan
arus keluar dari sumber daya perusahaan (yang memiliki manfaat ekonomi) dalam
jangka waktu lebih dari satu tahun. Termasuk dalam kewajiban ini misalnya hutang obligasi, hutang hipotik, hutang bank
atau kredit investasi.
c.
Kewajiban
Lain-lain, yaitu kewajiban yang tidak dapat dikategorikan ke dalam salah satu
macam kewajiban diatas,
misalnya hitang
pada direksi, hutang pada pemegang saham.
Ekuitas, yaitu bagian hak pemilik
dalam perusahaan yang merupakan selisih antara aktiva dan kewajiban yang ada.
Ekuitas terdiri dari:
a.
Ekuitas yang
berasal dari setoran para pemilik, misalnya modal saham.
b.
Ekuitas yang
berasal dari hasil operasi, yaitu laba yang tidak dibagikan kepada para
pemilik, misalnya deviden.
3
Laporan Laba Rugi
Laporan
Laba Rugi merupakan catatan sitematis yang berisi tentang penghasilan, biaya,
rugi labayang diperoleh oleh perusahaan selama periode tertentu, umumnya satu
tahun.Dalam penyusunan
laporan keuangan metode yang dapat digunakan adalah multiple
step dan single step. Metode multi step adalah metode
penyusunan laporan keuangan dengan bentuk bertahap,sedangkan metodesingle
stepadalah motode penyusunan laporan keuangan dengan mengurangkan semua
beban terhadap seluruh pendapatan, Soemarso (2004). Laporan laba rugi memiliki unsur :
1
Penghasilan (income), ada dua jenis penghasilan yaitu
:
a.
Pendapatan
(revenues), yaitu penghasilan yang timbul dalam pelaksanaan aktifitas yang biasa
dab dikenal dengan sebutan berbeda, seperti penjualan barang dagangan,
penghasilan jasa (fee), pendapatan
bunga, pendapatan deviden, royaltis dan sewa.
b.
Keuntungan (gains), yaitu pos lain yang memenugi
definisi penghasilan dan mungkin timbul atau tidak timbul dalam pelaksanaan
aktifitas perusahaan yang rutin misalnya pos yang timbul dalam pengalihan
aktiva lancar, revaluasi sekuritas, kenaikan jumlah aktiva jangka panjang.
2
Beban (expense), dapat terdiri dari :
Beban yang timbul
dalam pelaksanaan aktifitas perusahaan yang biasa (yang biasanya berbentuk arus
kas keluar atau berkurangnya aktiva seperti kas persediaan, aktiva tetap), yang
meliputi misalnya harga pokok penjualan, gaji dan upah, serta penyusutannya.
Kerugian, yang mencerminkan pos lain yang memenuhi definisi beban yang timbul
atau tidak timbul dari aktifitas perusahaan yang jarang terjadi, seperti
misalnya rugi karena bencana kebakaran, banjir atau pelepasan aktiva tidak
lancar.
2.6 Sifat
Laporan Keuangan
Laporan keuangan dibuat dengan maksud
memberikan gambaran mengenai keuanganperusahaan secara
periodik yang dilakukan pihak manajemen yang bersangkutan. Kasmir (2010) menjelaskan
bahwa dalam menyusun laporan keuangan harus dilakukan degan kaidah yang berlaku, yakni bersifat
historis serta menyeluruh. Bersifat historis artinya bahwa laporan keuangan dibuat dan disusun dari data masa lalu yang sudah lewat
dari masa sekarang. Bersifat menyeluruh maksudnya laporan keuangan dibuat
selengkap mungkin sesuai standar yang ditetapkan. Laporan keuangan terdiri dari
data-data yang merupakan hasil dari kombinasi antara:
a. Fakta yang telah dicatat, berarti laporan keuangan ini dibuat
berdasarkan fakta dari catatan akuntansi.
b. Prinsip–prinsip dan standar didalam akuntansi, yang berarti laporan
keuangan disusunberdasarkan prosedur yang lazim dalam akuntansi.
c. Pendapat pribadi, pendapat pribadi dimaksudkan bahwa walaupun
pencatatan transaksi telahdiatur oleh dalil-dalil yang telah ditetapkan yang
sudah menjadi standar praktek pembukuan,namun semua itu tergantung pada
manajemen perusahaan yang bersangkutan.
2.7
Pengertian Pajak
Pajak
adalah salah satu sumber penerimaan negara. Bahkan banyak negara yang
mengandalkan penerimaan pajak sebagai sumber penerimaan negara yang utama,
selain itu, pajak bai pemerintah merupakan sumber pendapatan yang cukup
potensial untuk dapat mencapai keberhasilan pembangunan. Sedangkan bagi
perusahaan pajak merupakan biaya yang bentuk pengembaliannya tidak diterima
secara langsung, baik berupa barang, jasa atau dana sehingga beban pajak harus
diperhitungkan dalam setiap keputusan yang melibatkannya.
Adapun
definisi pajak menurut para ahli yaitu Prof. Dr. H. Rochmat Soemitro SH. Pajak
adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada kas negara untuk membiayai
pengeluaran rutin dan surplusnya digunakan untuk public saving smber dana utama untuk membiayai public investment.
2.7.1
Fungsi Pajak
Adapun
fungsi pajak ada dua yaitu:
1) Fungsi Budgetair, yaitu pajak sebagai sumber dana bagi
pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran
2) Fungsi Mengatur (regulerend), yaitu pajak sebagai alat
untuk mengatur atau melaksanakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang sosial
dan ekonomi, contoh penerapan fungsi pajak tersebut yaitu:
a. Pajak yang tinggi dikenakan terhadap minuman keras untuk mengurangi
konsumsi minuman keras
b. Pajak yang tinggi dikenakan terhadap barang-barang mewah
untuk mengurangi gaya hidup konsumtif
c. Tarif pajak untuk ekspor sebesar 0%, untuk mendorong
ekspor produk indonesia di pasaran dunia
2.8
Aktiva Pajak Tangguhan (Deferred Tax
Asset)
2.8.1 Pengertian Aktiva Pajak
Tangguhan
Aktiva pajak
tangguhan adalah aktiva yang terjadi apabila perbedaan waktu menyebabkan
koreksi positif yang berakibat beban pajak menurut akuntansi komersial lebih
kecil dibanding beban pajak menurut Undang-Undang pajak ( Waluyo, 2008:217).
Aktiva pajak tangguhan disebabkan jumlah pajak penghasilan terpulihkan pada
periode mendatang sebagai akibat perbedaan temporer yang boleh dikurangkan dan
sisa kompensasi kerugian. Besarnya aktiva pajak tangguhan dicatat apabila
dimungkinkan adanya realisasi manfaat pajak di masa yang akan datang. Oleh
karena itu dibutuhkan judgment untuk
menaksir seberapa mungkin aktiva pajak tangguhan tersebut dapat direalisasikan.
Menurut Ikatan
Akuntansi Indonesia (2007), nilai tercatat aktiva pajak tangguhan harus
ditinjau kembali pada tanggal neraca. Perusahaan harus menurunkan nilai
tercatat apabila laba fiskal tidak mungkin memadai untuk mengkompensasi sebagai
atau semua aktiva pajak tangguhan. Penurunan tersebut harus disesuaikan kembali
apabila besar kemungkinan laba fiskal memadai. Dengan adanya kewajiban untuk
melakukan peninjauan kembali pada tanggal neraca, maka setiap tahun manajemen
harus membuat suatu penilaian untuk menentukan saldo aktiva pajak tangguhan dan
pencadangan aktiva pajak tangguhan, sedangkan penilaian manajemen utnuk
menentukan saldo cafangan aktiva pajak tangguhan tersebtu bersifat subjektif.
Dengan
diberlakukannya PSAK No 46 yang mensyaratkan para manajer untuk mengakui dan
menilai kembali aktiva pajak tangguhan yang dapat disebut pencadangan nilai
aktiva pajak tangguhan. Peraturan ini dapat diberikan kebebasan manajemen untuk
menentukan kebijakan akuntansi yang digunakan dalam penilaian aktiva pajak
tangguhan pada laporan keuangan yang digunakan dalam penilaian aktiva pajak
tangguhan pada laporan keuangannya, sehingga dapat digunakan untuk
mengindikasikan ada tidaknya rekayasa laba atau manajemen laba yang dilakukan
oleh perusahaan dalam laporan keuangan yang dilaporkan dalam rangka menghindari
penurunan atau kerugia laba.
2.9 Beban Pajak Tangguhan (deferred
Tax Expense)
2.9.1 Pengertian Pajak Tangguhan
Pajak tangguhan merupakan jumlah pajak penghasilan
yang terutang (payable) atau
terpulihkan (recovarable) pada tahun
mendatang sebagai akibat adanya perbedaan temporer yang boleh dikurangkan dari
sisa kompensasi kerugian yang dapat dikompensasikan. Pengakuan pajak tangguhan
berdampak terhadap berkurangnya laba atau rugi bersih sebagai akibat adanya
kemungkinan pengakuan beban pajak tangguhan dan manfaat pajak tangguhan .
menurut PSAK No 46, pajak tangguhan adalah jumlah pajak penghasilan untuk
periode mendatang sebagai akibat dari perbedaan temporer (waktu) yang boleh
dikurangkan dan sisa kompensasi kerugian.
Pajak tangguhan pada prinsipnya merupakan dampak
PPh di masa yang akan datang yang disebabkan oleh perbedaan temporer (waktu)
antara perlakuan akuntansi dan perpajakan serta kerugian fiskal yang masih
dapat dikompensasikan di masa datang (tax
loss carry foward) yang perlu disajikan dalam laporan keuangan dalam suatu
periode tertentu.
Pajak tangguhan terjadi akibat perbedaan antara
PPh terutang (pajak penghasilan yang dihitung berbasis pada penghasilan kna
pajak yang sesungguhnya dibayar kepada pemerintah) dengan beban pajak
penghasilan (pajak penghasilan yang dihitung berbasis penghasilan sebelm pajak)
sepanjang menyangkut perbedaan temporer. Kewajiban pajak tangguhan maupun aset
pajak tangguhan dapat terjadi dalam hal-hal sebagai berikut:
1)
Apabila penghasila
sebelum pajak-PSP (Pretax Accounting
Income) lebih besar dari penghasilan kena pajak-PKP (taxible Income), maka beban pajak-BP (Tax Expense) pun akan lebih besar dari pajak terutang PT (Tax Payable), sehingga akan menghasilkan
kewajiban pajak tangguhan (Deferred
Taxees Liabiliy). Kewajiban pajak tangguhan dapat dihitung dengan perbedaan
temporer degan tarif pajak yang berlaku.
2)
Sebaliknya apabila
penghasilan sebelum pajak (PSP) lebih kecil dari penghasilan kena pajak (PKP),
maka beban pajak (BP juga lebih kecil dari tarif terutang (PT), maka akan menghasilkan
Aktiva Pajak Tangguhan (Deferred Tax
Assets). Aktiva pajak tangguhan adalah sama dengan perbedaan temporer
dengan tarif pajak pada saat perbedaan tersebut terpulihkan.
2.9.2 Metode Beban Pajak Tangguhan
Metode pajak
tangguhan menurut Suandy( 2008:103) menggunakan pendekatan laba rugi memandang
perbedaan perlakuan akuntansi dan perpajakan dari sudut pandang laporan laba
rugi, yaitu kapan transaksi diakui dalam laporan laba rugi. Kelemahan dan
keunggulan metode beban pajak tangguhan ini adalah sebagai berikut:
a. Kewajiban mengungkapkan secara terpisah berkenaan dengan
pajak tangguhan di neraca dan laba rugi perusahaan dan tidak bergabung dengan
nilai aset individu
b. Objektif bila dibandingkan dengan metode kewajiban karena
tidak menggunakan estimasi atau asumsi yang berkenaan dengan waktu pemulihan
penghasilan kena pajak
c. Menekankan pada pengukuran seberapa besar pengamatan
pajak kini akibat perbedaan temporer tersebut yang dialokasikan pada periode
mendatang
d. Tidak terdapatnya konsep mendasar atau teori yang
rasional yang mempermasalahkan kredit pajak tangguhan
2.10
Penelitian Terdahulu
Penelitian
mengenai aktiva pajak tangguhan, beban pajak tangguhan telah banyak dilakukan
dalam penelitian-penelitian sebelumnya. Penelitian-penelitian tersebut banyak
memberikan kontribusi tambahan bagi akuntan pihak perpajakan dalam mendeteksi
dan mengatasi terjadinya praktik kinerja laporan keuangan. Menujukan hasil
penelitian terdahulu mengenai kemampuan pajak tangguhan dalam mendeteksi
kinerja laporan keuangan.
Tabel 2.1
Sumber
Jurnal
|
Peneliti
(Tahun)
|
Judul
Penelitian
|
Variabel
Penelitian
|
Hasil
Penelitian
|
Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta
|
Susi
Lestari (2018)
|
Pengaruh
Perencanaan Pajak, Beban Pajak Tangguhan, Aset Pajak Tangguhan, Kepemilikan
Manajerial dan Free Cash Flow Terhadap Manajemen Laba
|
Manajemen
Laba, Perencanaan Pajak, Beban Pajak Tangguhan, Aset Pajak Tangguhan,
Kepemilikan Manajerial, Free Cash Flow
|
Hasil
penelitian ini menujukan bahwa variabel perencanaan pajak, beban pajak
tangguhan, aset pajak tangguhan, dan kepemilikan manajerial tidak berpengaruh
terhadap manajemen laba. Sementara itu, variabel free cash flow berpengaruh
terhadap manajemen laba
|
Journal.unj.ac.id
Fakultas Ekonomi – Universitas Negeri Jakarta
|
Benny
Casanova, Masellisa Nindito 2015
|
Pengaruh
Aktiva Pajak Tangguhan dan Rasio Pajak Terhadap Kinerja Laporan Keuangan Pada
Perusahaan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
|
Aset
Pajak Tangguhan, Rasio Pajak, Kinerja Keuangan Perusahaan
|
Hasil
penelitian ini menujukan bahwa aset pajak tangguhan dapat mempengaruhi
kinerja keuangan perusahaan. Ini terjadi karena jumlah aset dapat
mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Di sisi lain, rasio pajak berdampak
pada kinerja keuangan perusahaan karena posisi negatif yang diperoleh dalam
penelitian ini menujukan bahwa peningkatan rasio pajak dapat menurunkan
kinerja keuangan perusahaan.
|
JIAFE
(Jurnal Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi E-ISSN 2502-4159
|
Tiara
Timuriana dan Rezwan Rizky Muhamad 2015
|
Pengaruh
Aset Pajak Tangguhan Dan Beban Pajak Tangguhan Terhadap Manajemen Laba
|
Ase
Pajak Tangguhan, Beban Pajak Tangguhan, dan Manajemen Laba
|
Hasil
penelitian inii dapat disimpulkan bahwa Aset Pajak tangguhan berpengaruh
terhadap manajemen laba, Beban Pajak Tangguhan tidak berpengaruh terhadap
manajemen laba dan aset pajak tangguhan dan beban pajak tangguhan secara
bersama-sama berpengaruh terhadap manajemen laba
|
Faculty
of Business Widya Mandala Catholic University Surabaya
|
Sanjaya,
Christine (2016)
|
Pengaruh
Pajak Tangguhan dan Tax Book Ratio Terhadap Kinerja Perusahaan Manufaktur
Yang Terdaftar di BEI tahun 2011-2014
|
Corporate
governance, indeks pengungkapan wajib, ketepatan penyampaian informasi,
komposisi aktiva, kesempatan tumbuh, ukuran perusahaan dan kinerja perusahaan
|
Hasil
penelitian ini adalah ada pengaruh yang signifikan dan positif antara
corporate governance terhadap kinerja perusahaan, ada pengeruh yang
signifikan dan posistif anatara indeks pengungkapan wajib terhadap kinerja
perusahaan, tidak ada pengaruh yang signifikan antara ketepatan penyampaian
informasi terhadap kinerja perusahaan, tidak ada pengaruh yang signifikan
antara komposisi aktiva terhadap kinerja perusahaan, tidak ada pengaruh yang
signifikan antara kesempatan tumbuh terhadap kinerja perusahaan
|
Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhamaddiyah Surakarta
|
Tika
Agustina (2019)
|
Analisis
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Keuangan Perusahaan
|
Kinerja
keuangan perusahaan, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional,
kepemilikan asing, dewan komisaris independen, struktur modal, dan ukuran
perusahaan
|
Hasil
penelitian ini menujukan bahwa struktur modal dan ukuran perusahaan
berpengaruh terhadap kinerja keuangan
perusahaan, kepemilikan asing dan dewan
komisaris independen tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan
|
Jurnal
Akuntansi Fakultas Ekonomi
|
Yoppy
Purnawan, Tahun 2016
|
Pengaruh
Aktiva Pajak Tangguhan, Beban Pajak Tangguhan, Beban Pajak Kini dan Basis
Akrual Terhadap Manajemen Laba
|
Aktiva
Pajak Tangguhan, Beban Pajak Tangguhan, Manajemen Laba
|
Aktiva
pajak tangguhan todak memiliki pengaruh terhadap Manajemen Laba. Beban Pajak
Tangguhan memiliki pengaruh terhadap Manajemen Laba. Beban Pajak Kini
memiliki pengaruh terhadap manajemen laba. Basis Akrual memiliki pengaruh
signifikan terhadap manajemen laba
|
Eprints
universitas Diponegoro Institutional Repository
|
Hajianto,
Aris Wahyu dan Faisal (2015)
|
Analisis
Pengaruh Ukuran Pengungkapan Laporan Keuangan dan Tahunan Perusahaan terhadap
Kinerja Perusahaan
|
Laporan
Tahunan, Laporan Keuangan, Ukuran Pengungkapan, Kinerja Perusahaan
|
Hasil
penelitian ini menujukan bahwa terdapat hubungan positif tidak signifikan
antara pengungkapan ukuran perusahaan laporan keuangan dan kinerja
perusahaan. Hipotesis lainnya menujukan bahwa terdapat hubungan positif tidak
signifikan antara pengungkapan ukuran pengungkapan laporan tahunan dan
kinerja perusahaan
|
Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Negeri Islam Surakarta
|
Sarwanti
(2019)
|
Penilaian
Kualitas Laporan Keuangan Menggunakan Karakteristik Kualitatif Laporan
Keuangan
|
Relevansi,
Penyajian Jujur, IFRS
|
Berdasarkan
hasil penelitian yang telah dilakukan kualitas relevansi dan penyajian jujur
laporan keuangan di indonesia masih mengalami kenaikan dan penurunan yang berfluktuasi,
hal ini dikarenakan adanya adopsi IFRS yang masih bertahap
|
Fakultas
Ekonomi Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
|
Dewi
Pindiharti
|
Pengaruh
Aktiva Pajak Tagguhan, Beban Pajak Tangguhan dan Akrual Terhadap Earning
Management
|
Manajemen
Laba, Aktiva Pajak Tangguhan, Beban Pajak Tangguhan, dan Akrual
|
Hasil
penelitian ini menemukan bahwa beban pajak tangguhan dan akrual memiliki
pengaruh positif dan signifikan terhadap kemungkinan perusahaan melakukan
praktik manajemen laba sedangkan, aktiva pajak tangguhan tidak memiliki
pengaruh signifikan. Hal ini menujukan bahwa penggunaan beban pajak tangguhan
dan akrual sebagai prokso manajemen laba masih valid
|
2.11
Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran dalam penelitian
ini menujukan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Variabel
independen dalam penelitian ini adalah beban pajak tangguhan dan aktiva pajak
tangguhan. Sedangkan variabel dependennya adalah kinerja laporan keuangan.
Adapun kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar berikut ini :
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Jenis Penelitian
Pendekatan
penulisan yang digunakan penelitian ini yaitu pendekatan kuantitatif.
Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang dilakukan dengan mengumpulkan
data yang berupa angka, atau dengan data berupa kata-kata atau kalimat yang
diubah menjadi data yang berbentuk angka. Jenis penelitian ini megelola data
Aktiva Pajak Tangguhan, Beban Pajak Tangguhan yang kemudian dilihat pengaruhnya
terhadap kinerja laporan keuangan.
3.2
Definisi Operasional Variabel
Variabel
yang digunakan dalam penelitian ini adalah aktiva pajak tangguhan serta beban
pajak tangguhan sebagai variabel bebas yang mempengaruhi laporan keuangan
perusahaan sebagai variabel terkait. Adapun definisi operasional yang digunakan
dalam penelitian ini yakni:
a)
Variabel Independen (X)
1
Aktiva Pajak Tangguhan (X1)
Aktiva pajak tangguhan adalah saldo
akun di nearaca sebagai manfaat pajak yang jumlahnya merupakan jumlah estimasi
yang akan
dipulihkan dalam
periode yang akan datang sebagai akibat adanya perbedaan sementara antara
standar akuntansi keuangan dengan peraturan perpajakan dan akibat adanya saldo
kerugian yang dapat dikompesansikan pada periode mendatang. Dalam penelitian
ini aktiva pajak tangguhan sebagai variabel bebas yang diukur dengan perubahan
nilai aktiva pajak tangguhan pada periode t dengan t-1 dibagi dengan nilai
aktiva pajak tangguhan pada akhir periode t. (Waluyo, Akuntansi Pajak (Jakarta
: Salemba Empat 2008))
APTit = aktiva pajak
tangguhan it
aktiva
pajak tangguhan t
2
Beban Pajak Tangguhan (X2)
Beban pajak
tangguhan adalah beban yang timbul akibat perbedaan antara laba akuntansi
(yaitu laba dalam laporan keuangan untuk kepentingan pihak eksternal) dengan
laba fiskal (laba yang digunakan sebagai dasar perhitungan pajak). Perbedaan
antara laporan keuangan, standar akuntansi dan fiskal disebabkan dalam
penyusunan laporan keuangan standar akuntansi lebih memberikan keluasan bagi
manajemen dalam menentukan prinsip dan asumsi dibandingkan yang diperoleh
menurut pajak. Perhitungan tentang beban pajak tangguhan dihitung dengan
menggunakan indikator membobot beban pajak tangguhan dengan total aktiva atau
asset, hal ini dilakukan untuk pembobotan beban pajak tangguhan dengan total
aset pada periode t-1 untuk memperoleh nilai yang terhitung dengan proposional.
(Waluyo, Akuntansi Pajak (Jakarta : Salemba Empat 2008))
DTE it = beban pajak tangguhan
Total asset t-1
3
Variabel Dependen (Y)
laporan keuangan terhadap suatu
perusahaan digunakan untuk mengetahui keadaan dan perkembangan keuangan
perusahaan terutama bagi pihak manajemen. Hasil analisis dapat digunakan untuk
melihat kelemahan perusahaan selama periode waktu berjalan. Sedangkan hasil
yang cukup baik harus dipertahankan pada waktu mendatang. Dalam
manganalisis dan menilai posisi keuangan dan potensi perusahaan,
langkah-langkah yang harus dilakukan adalah menghitung rasio likuiditas, rasio
leverage rasio aktivitas dan rasio profitabilitas.
1)
Rasio Profitabilitas
a) Return on Assets(ROA)
ROA
menunjukkan kemampuan perusahaan dengan menggunakan seluruh aktiva yang
dimiliki untuk menghasilkan laba setelah pajak. Rasio ini penting bagi pihak
manajemen untuk mengevaluasi efektivitas dan efisiensi manajemen perusahaan
dalam mengelola seluruh aktiva perusahaan. Semakin besar ROA, berarti semakin
efisien penggunaan aktiva perusahaan atau dengan kata lain dengan jumlah aktiva
yang sama bisa dihasilkan laba yang lebih besar, dan sebaliknya.
𝑅𝑒𝑡𝑢𝑟𝑛 𝑜𝑛 𝐴𝑠𝑠𝑒(ROA)= 𝐸𝑎𝑟𝑛𝑖𝑛𝑔 𝐴𝑓𝑡𝑒𝑟 𝑇𝑎𝑥𝑒𝑠
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠
3.3
Populasi dan Sample
Populasi
yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusaahan yang terdaftar
di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan periode pengamatan penelitian dilakukan
dari tahun 2015-2018. Metode pemilihan sample
dalam penelitian ini menggunakan metode purposive
sampling. Purposive sampling merupakan teknik penentuan sample berdasarkan
pertimbangan- pertimbangan tertentu yang didasarkan pada tujuan penelitian.
Aplikasi purposive sampling dalam penelitian ini adalah pemilihan sampel
berdasarkan kriteria sebagai berikut:
1. Sampel merupakan perusahaan-perusahaan yang bergerak di
sektor textil pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
periode tahun 2015-2018
2. Perusahaan tersebut tidak mengalai delesting
3. Perusahaan yang melaporkan laporan keuangan yang telah di
audit dari tahun 2015-2018 dan mempublikasikan laporan keuangan untuk tahun
yang berakhir dan per 31 desember
4. Perusahaan melaporkan aktiva pajak tangguhan dan beban
pajak tangguhan pada tahun-tahun tertetntu, yaitu antara tahun 2015-2018
5. Perusahaan melaporkan laporan keuangan dalam satuan mata
uang rupiah (IDR)
Dari syarat-syarat diatas didapatkan hasil sebagai
berikut:
a. Terdapat 21 perusahaan Textill yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia
b. Tidak terdapat perusahaan yang mengalami delisting
c. Terdapat 5 perusahaan yang tidak mempublish Laporan
Keuangan.
Tabel 3.1
Hasil Seleksi
Sampel
No
|
Kriteria
|
Jumlah
|
1
|
Jumlah Perusahaan
Textill yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2015-2018
|
21 Perusahaan
|
2
|
Perusahaan yang
tidak menerbitkan laporan tahunan
|
(5)
Perusahaan
|
3
|
Perusahaan yang mempublikasikan
laporan tahunan tahun 2015-2018
|
16 perusahaan
|
4
|
Sampel Perusahaan
|
16 perusahaan
|
5
|
Total observasi
selama (16 x 4 tahun)
|
64 Perusahaan
|
3.4
Metode Pengumpulan Data
Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data yang diperoleh
secara tidak langsung melalui media perantara. Data sekunder yang digunakan
berupa laporan keuangan setiap perusahaan sampel periode tahun 2015-2019.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi dengan cara mengumpulkan
data-data yang dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).
3.5
Metode Analisis Data
3.5.1 Analisis Deskriptif
Teknik analisis
yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode deskriptif
kuantitatif dan statistik deskriptif. Metode deskriptif kuantitatif adalah
metode analisis data yang menggambarkan perhitungan angka-angka dan dijelaskan
hasil-hasil perhitungan berdasarkan literatur yang ada.
Statistik
deskriptif merupakan statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara
mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya
tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.
Menggunakan analisis deskriptif dilakukan untuk mengetahui tentang pengaruh
Aktiva Pajak Tangguhan, Beban Pajak Tangguhan yang terdaftar di BEI. Dengan
menggunakan Uji Regresi Linear Berganda untuk menganalisis pengaruh Aktiva
Pajak Tangguhan, Beban Pajak Tangguhan terhadap Kinerja Laporan Keuangan yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
3.6 Uji Instrumen Penelitian
Mengingat metode analisis yang digunakan adalah analisis
regresi linier berganda dan data penelitian yang digunakan adalah data
sekunder, maka untuk memenuhi syarat yang ditentukan sehingga penggunaan model regresi
linier berganda perlu dilakukan pengujian atas beberapa asumsi klasik yang
digunakanyaitu: ujinormalitas , uji heteroskedastisitas, uji
multikolinieritas,uji autokorelasi danuji linearitasyang secararinci dapat
dijelaskan sebagai berikut :
1. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui suatu populasi
suatu data dapat dilakukan dengan analisis grafik. Salah satu cara termudah
untuk melihat normalitas residual adalah dengan melihat grafik histogram dan
normalitas residual adalah denganmelihat grafik histrogram dan normal
probabilityplot yang membandingkan distribusi kumulatif dari data sesungguhnya
dengan distribusi kumulatif dari distribusi normal. Jika distribusi data
residual normal, maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti
garis digonalnya. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi normal
atau mendekati normal. (Imam Ghozali,
2. Uji Autokorelasi
Autokorelasi adalah keadaan dimana tejadinya korelasi
antara residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi.
Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya korelasi yang
terjadi antara residual pada saat pengamatan dengan pengamatan lain pada model
regresi. (Imam, Ghozali) Metode pengujian menggunakan uji Durbin-Watson (uji DW) dengan
ketentuan sebagai berikut:
1. Jika d lebih kecil dari dl atau lebih besar dari (4-dl), maka
hipotesis nol ditolak, yang berarti terdapat autokorelasi.
2. Jika d terletak antara du dan atau diantara (4-du), maka hipotesi s nol
diterima, yang berarti tidak ada autokorelasi.
3. Jika d terletak antara dl dan du atau diantara (4-du) dan (4-dl),
maka tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti.
3. Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas adalah keadaan dimana terjadi
ketidaksamaan varian dari residual untuk semua pengamatan pada model regresi.
Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya
ketidaksamaan varian dari residual pada model regresi. Prasyarat yang harus
terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya masalah heteroskedastisitas.
Ada beberapa metode pengujian yang biasa digunakan diantaranya, yaitu uji
spearman’s rho, yaitu mengkorelasikan nilai residual (unstandaradized residual)
dengan masing-masing variabel independen. Jika signifikan korelasi kurang dari
0,05 maka pada model regresi terjadi masalah heteroskedastisitas. (Duwi, Priyatno)
4. Uji Multikolinieritas
Pendekataan multikolinieritas dapat dilakukan dengan
menilai (VIF) dari hasil analisis regresi. Dikatakan terjadi
multikolinieritasjika koefisien korelasi antara variabel bebas (X1X2, dan
seterusnya) lebih besar dari 0,60 (pendapat lain : 0,50 dan 0,90). Dikatakan
tidak terjadi multikolinieritas jika koefisien korelasi antara variabel bebas
lebih kecil atau sama dengan 0,60 (r ≤0,60). Jika tolerance ≤ 0,10 dan VIF >
10 maka terjadi gejala multikolinieritasyang tinggi. (Duwi, Priyatno)
5. Uji Liniearitas
Uji Linearitas adalah suatu uji yang digunakan untuk
mengetahui apakah dua variabel mempunyai hubungan yang linear atau tidak secara
signifikan. Uji ini digunakan untuk sbagai prasyarat dalam analisis regresi
linear. Pengujian pada SPSS dengan meeenggunakan Test For Linearity dengan pada tarif
signifikan 0,05. Dua variabel dikatakan mempunyai hubungan yang linear bila
signifkan kurang dari 0,05.
3.7 Analisis Regresi
Linier Berganda
Metode analisis yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah
dengan memakai metode analisis regresi linier berganda untuk memperoleh
gambaran yang menyeluruh mengenai hubungan antara variabel satu dengan
variabel yanglain. Dalam hal ini untuk variabel independennya adalah Aktiva
Pajak Tangguhan dan Beban Pajak Tangguhan dan variabel dependennya adalah Kinerja
Laporan Keuangan . Untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan dari
variabel independen terhadap variabel dependen maka digunakan model regresi linier
berganda (multiple linier regression method), Menurut (Danang Sunyoto, Duwi
Priyatno) yang dirumuskan sebagai berikut :
Y = a + b1X1 + b2X2+ e
Dimana :Y= Nilai prediksi variabel dependen
a= Konstanta, yaitu jika X1,X2 = 0
b1b2= Koefisien regresi, yaitu nilai peningkatan atau penurunan
variabel Y yang didasarkan variabel X1,X2,
X1= Variabel independen
(Aktiva Pajak Tangguhan)
X2= Variabel independen (Beban Pajak Tangguhan)
e = error
3.7.1 Uji Hipotesis
Uji hipotesis adalah pengujian yang bertujuanuntuk
mengetahui apakah kesimpulan pada sampel dapat berlaku untuk populasi (dapat
digeneralisasi). Perhitungan statistik disebut signifikan secara statistik
apabila nilai uji statistiknya berada dalam daerah kritis (daerah dimana
Hoditolak). Sebaliknya disebut tidak signifikan bila nilai uji statistiknya
berada dalam daerah dimana Hoditerima.
3.7.2 Uji t (Parsial)
Pengujian ini dilakukan untuk menguji pengaruh variabel
bebas terhadap variabel tidak bebas atau terikat secara terpisah atau parsial
serta penerimaan atau penolakan hipotesa. Pengujian ini dilakukan berdasarkan
perbandingan nilai thitung masing-masing koefisien regresi dengan nilai
ttabel(nilai hitung tabel kritis). dengan tingkat signifikan 5% dengan derajat kebebasan df= (n-k-1),
dimana nadalah jumlah observasi dan k adalah jumlah variabel.
a. Jika thitung< ttabel (n-k-1), maka Hoditerima artinya variabel hitung
tabel independen (Aktiva Pajak Tangguhan, Beban Pajak
Tangguhan dan Perencanaan Pajak ) tidak berpengaruh terhadap variabel dependen
(Manajemen Laba).
b. Jika thitung > ttabel (n-k-1), maka Hoditolak dan menerima
Hahitung tabel artinya variabel independen (Aktiva Pajak Tangguhan, Beban Pajak
Tangguhan) berpengaruh terhadap variabel dependen (Kinerja Laporan Keuangan).
3.7.3 Koefisien Determinasi
(R2)
Koefisien determinasi (R2) diukur untuk mengetahui sejauh mana
kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien
determinasi yang biasanya diberi simbol R2 menunjukkan hubungan
pengaruh antara dua variable yaitu variabel independen (Aktiva Pajak Tangguhan,
Beban Pajak Tangguhan dan variabel dependen (Kinerja Laporan Keuangan) dari
hasil perhitungan tertentu.
DAFTAR PUSTAKA
PSAK No. 46 Pajak Penghasilan (2010). “Exposure
Draft Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan”. Ikatan Akuntansi Keuangan
Laidian, Sufliya. “kasus Pada PT. PLN
(PERSERO) Distribusi Bali Mengenai Manipulasi Pajak Tangguhan”. Dari http://student-research.umm.ac.id/index.php/deptofaccounting/article/view/5206
Purba, Marisi. 2009. “Akuntansi Pajak
Penghasilan”. Yogyakarta:Andi
Waluyo. 2008. “Akuntansi Pajak.
Jakarta:Salemba Empat.
Suandy (2008). “Pajak Tangguhan
(Deffered Tax Expense)”. Jakarta
Benny, Cassanova (2015). “pengaruh
Aktiva Pajak Tangguhan dan Rasio Pajak Terhadap Kinerja Laporan Keuangan Pada
Perusahaan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”. Jurnal Akuntansi
Ekonomi
Dewi, Pindiharti (2011). “Pengaruh
Aktiva Pajak Tangguhan, Beban Pajak Tangguhan dan Akrual Terhadap Earning
Manajemen”. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Kasmir, 2010. “Analisis Laporan
Keuangan” Rajawali Pers. Jakarta
Munawir, 2012. “ Kinerja Keuangan”. Jakarta
Harahap, 2001. “Laporan Keuangan”. Jakarta
Yoppy, Purnawan. 2016. “Pengaruh
Aktiva Pajak Tangguhan, Beban Pajak Tangguhan, Beban Pajak Kini dan Basis
Akrual Tehadap Manajemen Laba”. Jurnal Akuntansi Fakultas Ekonomi.
Duwi Priyatno (2010). ”Paham Analisa
Statistik Data Dengan SPSS”. Yogyakarta
Ghozali, Imam (2009). “Aplikasi
Analisis Multivariate Dengan Program Spss”. Semarang : Universitas
Diponegoro.

No comments:
Post a Comment