Pages

Friday, March 6, 2020

Tugas Skripsi Akutansi

PENGARUH AKTIVA PAJAK TANGGUHAN DAN BEBAN PAJAK TANGGUHAN TERHADAP KINERJA LAPORAN KEUANGAN
( Studi Pada Perusahaan Textil Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2018 )






Diajukan guna melengkapi sebagian syarat dalam mencapai gelar Sarjana Strata Satu ( S1 )

Disusun Oleh :

Nama                             : Rani Anjaeni
NPM                     : 16140737
Program Studi      : Akuntansi S1


PROGRAM STUDI AKUNTANSI
STIE INTERNASIONAL GOLDEN INSTITUTE
JAKARTA
2020




BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Penyusunan laporan keuangan oleh manajemen bertujuan untuk menyampaikan informasi mengenai kondisi keuangan dan ekonomi perusahaan pada periode tertentu. Laporan keuangan merupakan suatu gambaran mengenai kondisi perusahaan karena di dalam laporan keuangan terdapat informasi-informasi yang dibutuhkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahan dan menjadi alat yang menghubungkan pihak-pihak tersebut. Laporan keuangan mampu menggambarkan posisi keuangan dan hasil perusahaan pada saat tertentu secara wajar. Laporan keuangan yang disusun secara baik dan akurat dapat memberikan gambaran keadaan yang nyata mengenai prestasi yang telah dicapai oleh suatu perusahaan dalam kurun waktu tertentu. Laporan keuangan merupakan hasil dari proses akuntansi yang disajikan dalam bentuk kuantitatif, yang mana informasi-informasi yang disajikan di dalamnya dapat membantu berbagai pihak, baik dalam maupun luar perusahaan untuk mengambil keputusan yang sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup perusahaan. Laporan keuangan yang


dihasilkan perusahaan merupakan salah satu informasi yang dapat digunakan dalam menilai kinerja perusahaan, laporan keuangan menurut pernyataan Standar  Akuntansi Keuangan (PSAK, 2007) No.1 tentang penyajian laporan keuangan memiliki komponen-komponen seperti : Neraca, laporan laba rugi, laporan ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan. Demikian halnya dengan aspek perpajakan yang juga perlu diperhitungkan dalam konteks pengambilan keputusan terkait prestasi atau kegagalan perusahaan dalam menghasilkan laba, seberapa besar kewajiban perusahaan kepada negara karena berkaitan dengan beban pajak yang harus diperhitungkan untuk setiap pembuatan keuputusan keuanan sehingga berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan dimasa yang akan datang, misalnya perusahaan dalam hal melakukan atau tidak melakukan investasi, menyewa atau membeli harta bergerak perusahaan guna kegiatan operasionalnya dengan turut mempertimbangkan besar kecilnya jumlah pajak yang hasus disetorkan kepada negara. Beban pajak kini merupakan beban pajak penghasilan perusahaan yang dihitung berdasarkan tarif pajak penghasilan dikalikan dengan laba fiskal, yaitu laba akuntansi yang telah dikoreksi agar sesuai dengan ketentuan. Kajian dalam penelitian ini khususnya membahas tentang aktiva pajak tangguhan, beban pajak dan laporan keuangan. Karena pada dasarnya setiap perusahaan berusaha meningkatkan profit dalam angka yang maksimum namun menginginkan angka yang minimum dalam pembayaran pajaknya, oleh karena itu manajer perusahaan melakukan manajemen laba terhadap pelaporan keuangan untuk meminimumkan beban pajak yang harus dikeluarkan oleh perusahaan.
PSAK No. 46 (revisi 2010) menyatakan aktiva pajak tangguhan adalah jumlah pajak penghasilan yang dapat dipulihkan pada periode masa depan sebagai akibat adanya perbedaan temporer yang boleh dikurangkan, akumulasi rugi pajak belum dikompensasi dan akumulasi kredit pajak belum dimanfaatkan, dalam hal peraturan perpajakan mengijinkan. Aktiva pajak tangguhan dapat disamakan seperti lebih bayar pajak, yang akan diganti di masa yang akan datang pada saat pemulihan perbedaan temporer.
Sebagai contoh kasus pada PT. PLN (PERSERO) Distribusi Bali. Setelah dilakukakn pemeriksaan pajak, didapatkan hasil yang berupa pajak penghasilan fiskal pada tahun 2003 sebesar Rp616.206.533.565,- dan pada tahun 2004 sebesar Rp 120.344.177.465,-. Pajak tangguhan yang ada di PT. PLN (PERSERO) Distribusi Bali untuk aktiva pajak tangguhan tahun 2003 Rp 184.861.966.070,- dan kewajiban Pajak Tangguhan Tahun 2003 sebesar Rp 65.002.051.320,-. Tahun 2004 Aktiva Pajak Tangguhan sebesar Rp 36.103.253.240,- kewajiban Pajak Tangguhan Tahun 2004 sebesar Rp Pajak Tangguhan Tahun 2004 sebesar Rp7.515.162.581,-. Pada saat diadakan Koreksi Fiskal atas Laporan Laba Rugi Tahun 2003 ditemukan adanya selisih sebesar Rp 57.366.518.774,- lebih besar menurut fiskal dari pada Laporan Keuangan Perusahaan. Pada tahu 2004 juga ditemukan selisih yang lebih besar fiskal dari pada Laporan Keuangan Perusahaan  sebesar Rp 48.766.124.690,-. Pada Laporan Keuangan PT. PLN (Persero) (Laidian,2004). Hal ini menujukan bahwa pajak tangguhan dijadikan celah oleh manajemen untuk mempengaruhi besarnya pajak penghasilan yang seharusnya dibayarkan.
            Kewajiban pajak tangguhan (deferred tax liabilities) adalah jumlah pajak penghasilan yang terutang untuk periode mendatang sebagai akibat adanya perbedaan temporer kena pajak (purba, 2009:35), sedangkan aktiva pajak tangguhan adalah aktiva yang terjadi apabila perbedaan waktu menyebabkan koreksi positif yang berakibat beban pajak menurut akuntansi komersil lebih kecil dibanding beban pajak menurut undang-undang pajak (waluyo, 2008:217), beban pajak tangguhan dan aktiva pajak tangguhan memungkinkan perusahaan untuk memanfaatkan celah dalam merekayasa laporan keuangannya. Beban pajak tangguhan mengakibatkan tingkat laba yang diperoleh menurun dan aktiva pajak tangguhan yang jumlahnya diperbesar oleh manajemen memiliki peluang yang lebih besar untuk mendapatkan laba yang lebih besar dimasa yang akan datang sehingga mengurangi besarnya pajak yang dibayarkan.
            Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “PENGARUH AKTIVA PAJAK TANGGUHAN DAN BEBAN PAJAK TANGGUHAN TERHADAP KINERJA LAPORAN KEUANGAN (studi pada perusahaan Textil yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2018)”.

2.1 Rumusan Masalah
Dengan memanfaatkan peran lembaga adalah agar kualitas kinerja laporan keuangan dapat lebih mudah dipahami oleh pemodal sehingga perusahaan berkinerja rendah mudah terlihat. Namun permasalahan timbul ketika kepemilikan pajak tangguhan yang besar dan bernilai positif dan negatif serta beban pajak yang besar maupun kecil mempengaruhi penetuan tinggi rendahnya rating kualitias kinerja laporan keuangan. Berdasarkan latar belakang masalah, rumusan masalah disusun sebagai berikut :
1        apakah aktiva pajak tangguhan berpengaruh terhadap kinerja laporan keuangan pada perusahaan textil di Bursa Efek Indonesia ?
2        apakah beban pajak berpengaruh terhadap kinerja laporan keuangan pada perusahaan textil di Bursa Efek Indonesia ?
3        apakah aktiva pajak tangguhan dan beban pajak secara bersama-sama dapat berpengaruh terhadap kinerja laporan keuangan pada perusahaan textil yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia ?
3.1 Tujuan Penelitian
      Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah :
1        pengaruh aktiva pajak tangguhan terhadap kinerja laporan keuangan pada perusahaan textil yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
2        pengaruh beban pajak terhadap kinerja laporan keuangan pada perusahaan textil yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
4.1 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1        Manfaat Akademik
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti empiris mengenai pengaruh anatara variabel-variabel yang dalam hal ini adalah aktiva pajak tangguhan, beban pajak terhadap kinerja laporan keuangan
2        Manfaat Praktek
Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi investor untuk menambah wawasan mengenai pasar modal terutama mengenai aktiva pajak tangguhan dan beban  pajak. Diharpak juga dapat memberikan kontribusi untuk penelitian selanjutnya dalam hal pengembangan teori di masa mendatang.

3        Manfaat Manajemen
Memberikan petunjuk bagi manajemen perlunya kemampuan manajemen mengelola perbedaan temporer sedemikian rupa sehingga laba akuntansi tetap dipersepsikan berkualitas atau direspon positif oleh investor.















BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian dan Teori-Teori
2.1.1 Teori Agensi (Teori Agency)
Menurut Anthony dan Govindarajan, (1995) dalam Suranggane, (2007:80) teori keagenan (teory agency) adalah economic rational man dan kontrak antara prinsipal dan agen dibuat berdasarkan angka akuntansi sehingga menimbulkan konfilk kepentingan antara prinsipal dan agen. Teori ini berusaha menggambarkan individu-individu untuk mencapai keselarasan tujuan. Teori ini berusaha menggambarkan faktor-faktor utama yang sebaiknya dipertimbangkan untuk merancang kontrak insentif.
Teori agensi mengasumsikan bahwa semua individu memiliki kepentingan dan keinginan sendiri-sendiri sehinnga mereka berusaha untuk memenuhi kepentingan sendiri tersebut. Hal ini menyebabkan timbulnya konflik kepentingan antara principal dan agent. Pihak pemilik (principal) termotivasi mengadakan kontrak untuk mensejahterakan dirinya dengan profitabilitas yang selalu meningkat. Agent termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhannkebutuhan ekonomi dan psikologisnya, antara lain dalam hal memperoleh investasi, pinjaman, maupun kontrak  kempensasi. Konflik kepentingan semakin meningkat karena


pihak pemilik (pricipal) tidak dapat memonitor aktivitas manajemen sehari-hari. Untuk memastikan bahwa manajemen bekerja sesuai dengan keinginan pemegang saham.
2.2 Pengertian Kinerja Keuangan
            2.2.1 Kinerja Keuangan      
Pengertian kinerja (performance) menurut Drucker (2002, p134) adalah tingkat prestasi atau hasil nyata yang dicapai, yang mana kadang-kadang dipergunakan untuk memperoleh suatu hasil yang positif. Kinerja juga didefinisika sebagai keberhasilan personel dalam mewujudkan sasaran strategik dalam empat perspektif : keuangan, custumer, proses, serta pembelajaran dan pertumbuhan. Dari pengertian tersebut maka dapat terlihat bahwa kinerja perusahaan merupakan hasil keputusan-keputusan manajemen untuk mencapai suatu tujuan tertentu secara efektif dan efisien. Untuk dapat memperoleh gambaran tentang perkembangan kinerja perusahaan tersebut perlu mengadakan interpretasi atau analisis terhadap data keuangan dari perusahaan yang bersangkutan dan data keuangan itu akan tercemin di dalam laporan keuangan.
Pengertian penilaian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “penilaian mempunyai arti proses atau cara menilai. Dalam bahasa inggris, sering diartikan dengan kata measurement yang berarti system pengukuran.” Pengukuran maupun penilaian kinerja adalah alat manajemen untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas.
Dengan demikian, pengertian penilaian kinerja adalah suatu usaha formal yang dilakukan manajemen untuk mengevaluasi hasil-hasil dari aktivitas-aktivitas yang telah dilaksanakan dan dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya.
Menurut Husnan dan Pudjiastuti, 2012. Terdapat beberapa alat ukur atau analisis yang dapat digunakan dalam penilaian kinerja keuangan perusahaan, diantaranya:
1        Market Value Added (MVA)
2        Economic Value Added (EVA)
3        Analisis Common Size
4        Analisis inddeks
5        Analisis Rasio Keuangan
6        Analisis Keuangan Sistem Dupont
7        Analisis Basic Earnings Power
Kinerja keuangan perusahaan berkaitan erat dengan pengukuran dan penilaian kinerja. Pengukuran kinerja (perfoming measurement) adalah kualifikasi dan efesiensi serta efektivitas perusahaan dalam pengoperasian bisnis selama periode akuntansi. Adapun penilaian kinerja menurut Srimindarti (2006:34) adalah penentuan efektivitas operasional, organisasi, dan karyawan berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang telah di tetapkan sebelumnya secara periodik. Menurut Munawir (2012:31) menyatakan bahwa tujuan dari pengukuran kinerja keuangan perusahaan adalah :
1        Untuk mengetahui tingkat likuiditas, yaitu kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan yang harus segera dipenuhi, atas kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban keuangan saat ditagih
2        Untuk mengetahui tingkat solvabilitas, yaitu kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuntungannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi baik kewajiba keuangan jangka pendek maupun keuangan jangka panjang
3        Mengetahui tingkat rentabilitas kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba padda periode tertentu, mengetahui stabilitas usaha yaitu kemampuan perusahaan untuk melakukan usahanya dengan stabil dan mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk membayar deviden secara teratur
4        Mengetahui tingkat stabilitas menujukan kemampuan perusahaan untuk melakukan usahanya dengan stabil, yang di ukur dengan mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk membayar hutang-hutangnya serta membayar beban bunga atas hutang-hutangnya tepat pada waktunya
2.3 Analisis Kinerja Keuangan
            Menurut Jumingan (2006:240)analisis kinerja keuangan merupakan proses pengkajian secara kritis terhadap keuangan bank menyangkut review data, menghitung, mengukur, menginterpretasi, dan memberi solusi terhadap keuangan pada suatu periode tertentu. Dengan demikian, prosedur analisis meliputi tahapan sebagai berikut:
a. Review Data Laporan Aktivitas penyesuaian data laporan keuangan terhadap berbagai hal, baiksifat atau jenis perusahaan yang melaporkan maupun sistem akuntansi yang berlaku. Sistem akuntansi yang diterapkan dalam memberi pengakuan terhadap pendapatan dan biaya akan menentukan jumlah pendapatan maupunlaba yang dihasilkan perusahaan. Dengan demikian, kegiatan me-review merupakan jalan menuju suatu hasil analisis yang memiliki tingkat pembiasaan yang relatif kecil.
b. Menghitung Dengan menggunakan berbagai metode dan teknik analisis dilakukan perhitungan-perhitungan, baik metode perbandingan, persentase perkomponen, analisis rasio keuangan, dan lain-lain. Dengan metode atauteknik apa yang akan digunakan dalam perhitungan sangat bergantung pada tujuan analisis.
c. Membandingkan atau Mengukur Langkah berikutnya setelah melakukan perhitungan adalah membandingkan atau mengukur. Langkah ini diperlukan guna mengetahui.
Kinerja keuangan dapat dinilai dengan beberapa alat analisis. Berdasarkan tekniknya, analisis keuangan dapat dibedakan menjadi :
1        Analisis Perbandingan Laporan Keuangan, merupakan teknik analisis dengan cara membandingkan laporan keuangan dua periode atau lebih dengan menujukkan perubahan, baik dalam jumlah (absolut) maupun persentase (relatif).
2        Analisis Tren, merupakan teknik analisis untuk mengetahui tedensi keadaan keuangan apakah menujukan kenaikan atau penurunan.
3        Analisis persentase per-komponen (common size), merupakan teknik analisis untuk mengetahui persentase investasi pada masing-masing aktiva terhadap keseluruhan atau total aktia maupun utang.
4        Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja, merupakan teknik analisis untuk mengetahui besarnya sumber dan penggunaan modal kerja melalui dua periode waktu yang dibandingkan.
2.4 Penilaian Kinerja Keuangan
            Bagi investor, informasi mengenai kinerja keuangan perusahaan dapat digunakan untuk melihat apakah mereka akan mempertahankan investasi mereka diperusahaan tersebut atau mencari alternatif lain. Apabila kinerja perusahaan baik maka nilai usaha akan tinggi. Dengan nilai usaha yang tinggi membuat para investor melirik perusahaan tersebut untuk menanamkan modalnya sehingga akan terjadi kenaikan harga saham. Atau dapat dikatakan bahwa harga saham merupakan fungsi dari nilai perusahaan.
2.5 Laporan Keuangan       
2.5.1 Pengertian Laporan Keuangan
Analisis laporan keuangan merupakan suatu proses analisis terhadap laporan kauangan dengan tujuan untuk memberikan tambahan informasi kepada para pemakai laporan keuangan untuk pengambilan keputusan ekonomi, sehingga kualitas keputusan yang diambil akan menjadi lebih baik.
            2.5.2 Tujuan Laporan Keuangan
Menurut Harahap (2001;133) menjelaskan tujuan laporan keuangan dengan membagi menjadi dua:
a.       Tujuan umum Menyajikan laporan posisi keuangan, hasil usaha, dan perubahan posisi keuangan secara wajar sesuai prinsip akuntansi yang diterima.
b.      Tujuan khusus Memberikan informasi tentang kekayaan, kewajiban, kekayaan bersih, proyeksi laba, perubahan kekayaan, serta informasi lainnya yang relevan.
2.5.3 Bentuk Laporan Keuangan
Laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat teretntu. Bagi para analyst, laporan keuangan merupakan media yang paling penting untuk meniilai prestasi dan kondisi ekonomis suatu perusahaan, Sofyan Safri Harahap (1998 : 105)
1        Jenis Laporan Keuangan
Weston & Copeland (1995 : 25) mengatakan dalam bukunya, bahwa gambaran yang lengkap tentang aktivitas akutansi keuangan suatu perusahaan selama satu tahun terdiri dari 3 laporan keuangan dasar, yaitu : (a) Neraca awal tahun memberikan gambaran tentang perusahaan pada permulaan tahun pajaknya, ditambah neraca akhir tahun yang memberikan gambaran tentang harta dan hutang, (b) Perhitungan rugi laba menunjukkan arus pendapatan dan beban atau biaya selama interval antara neraca awal dan akhir periode, (c) Laporan arus kas merinci sumber-sumber perubahan kas dan ekuivalen kas selama intervak waktu yang sama dengan perhitungan rugi laba.
2        Neraca
Neraca adalah laporan yang sistematis tentang aktiva, hutang, serta modal yangbertujuan untukmenunjukan posisi keuangan dari suatu perusahaan pada periode tertentu. Menurut Baridwan(2005) Neraca adalah laporan yang menunjukan keadaan keuangan suatu unit usaha pada tanggaltertentu, keadaan keuangan ini ditunjukan dengan jumlah aset yang dimiliki perusahaan danjumlah kewajiban perusahaan.Neraca mempunyai 3 laporan keuangan, yaitu:
Aktiva adalah sumber daya yang paling dikuasai oleh perusahaan, yang terdiri dari:
a.       Aktiva Lancar, yaitu aktiva yang manfaat ekonominya diharapkan akan diperoleh dalam satu tahun atau kurang (siklus operasi normal), misalnya kas, surat berharga, persediaan, piutang dan persekot biaya
b.      Investasi Jangka Panjang, yaitu penanaman modal yang biasanya dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh penghasilan tetap atau untuk menguasai perusahaan lain dan jangka waktunya lebih dari satu tahun, misalnya investasi saham, investasi obligasi
c.       Aktiva Tetap, yaitu aktiva yang memiliki subtansi (wujud) fisik, digunakan dalam operasi normal perusahaan dan memberikan manfaat ekonomi lebih dari satu tahun. Contohnya adalah gedung, tanah, kendaraan, mesin dan peralatan.
d.      Aktiva Yang Tidak Berwujud, yaitu aktiva yang tidak memiliki subtansi fisik dan biasanya berupa hak istimewa yang memberikan manfaat ekonomi bagi perusahaan untuk jangka waktu lebih dari satu tahun. Misalnya patent, goodwill, royalty, copyright, franchise, dan license
Kewajiban yang merupakan utang perusahaan masa kini, yang terdiri dari:
a.       Kewajiban Lancar, yaitu kewajiban yang penyelesaiannya diharapkan akan mengakibatkan arus kas keluar dari sumber daya perusahaan (yang memiliki manfaat ekonomi) dalam jangka waktu satu tahun atau kurang. Termasuk dalam kategori kewajiban ini misalnya utang dagang, utang wesel, utang gaji dan upah, utang pajak, dan utang biaya.
b.      Kewajiban Jangka Panjang, yaitu kewajiban yang penyelesaiannya diharapkan akan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya perusahaan (yang memiliki manfaat ekonomi) dalam jangka waktu lebih dari satu tahun. Termasuk dalam kewajiban ini misalnya  hutang obligasi, hutang hipotik, hutang bank atau kredit investasi.
c.       Kewajiban Lain-lain, yaitu kewajiban yang tidak dapat dikategorikan ke dalam salah satu macam kewajiban diatas,
misalnya hitang pada direksi, hutang pada pemegang saham.
Ekuitas, yaitu bagian hak pemilik dalam perusahaan yang merupakan selisih antara aktiva dan kewajiban yang ada. Ekuitas terdiri dari:
a.       Ekuitas yang berasal dari setoran para pemilik, misalnya modal saham.
b.      Ekuitas yang berasal dari hasil operasi, yaitu laba yang tidak dibagikan kepada para pemilik, misalnya deviden.

3        Laporan Laba Rugi
Laporan Laba Rugi merupakan catatan sitematis yang berisi tentang penghasilan, biaya, rugi labayang diperoleh oleh perusahaan selama periode tertentu, umumnya satu tahun.Dalam penyusunan laporan keuangan metode yang dapat digunakan adalah  multiple step dan single step. Metode multi step adalah metode penyusunan laporan keuangan dengan bentuk bertahap,sedangkan metodesingle stepadalah motode penyusunan laporan keuangan dengan mengurangkan semua beban terhadap seluruh pendapatan, Soemarso (2004). Laporan laba rugi memiliki unsur :
1        Penghasilan (income), ada dua jenis penghasilan yaitu :
a.       Pendapatan (revenues), yaitu penghasilan yang timbul dalam pelaksanaan aktifitas yang biasa dab dikenal dengan sebutan berbeda, seperti penjualan barang dagangan, penghasilan jasa (fee), pendapatan bunga, pendapatan deviden, royaltis dan sewa.
b.      Keuntungan (gains), yaitu pos lain yang memenugi definisi penghasilan dan mungkin timbul atau tidak timbul dalam pelaksanaan aktifitas perusahaan yang rutin misalnya pos yang timbul dalam pengalihan aktiva lancar, revaluasi sekuritas, kenaikan jumlah aktiva jangka panjang.
2        Beban (expense), dapat terdiri dari :
Beban yang timbul dalam pelaksanaan aktifitas perusahaan yang biasa (yang biasanya berbentuk arus kas keluar atau berkurangnya aktiva seperti kas persediaan, aktiva tetap), yang meliputi misalnya harga pokok penjualan, gaji dan upah, serta penyusutannya. Kerugian, yang mencerminkan pos lain yang memenuhi definisi beban yang timbul atau tidak timbul dari aktifitas perusahaan yang jarang terjadi, seperti misalnya rugi karena bencana kebakaran, banjir atau pelepasan aktiva tidak lancar.

2.6 Sifat Laporan Keuangan
Laporan keuangan dibuat dengan maksud memberikan gambaran mengenai keuanganperusahaan secara periodik yang dilakukan pihak manajemen yang bersangkutan. Kasmir (2010) menjelaskan bahwa dalam menyusun laporan keuangan harus dilakukan degan kaidah yang berlaku, yakni bersifat historis serta menyeluruh. Bersifat historis artinya bahwa laporan   keuangan dibuat dan disusun dari data masa lalu yang sudah lewat dari masa sekarang. Bersifat menyeluruh maksudnya laporan keuangan dibuat selengkap mungkin sesuai standar yang ditetapkan. Laporan keuangan terdiri dari data-data yang merupakan hasil dari kombinasi antara:
a. Fakta yang telah dicatat, berarti laporan keuangan ini dibuat berdasarkan fakta dari catatan akuntansi.
b. Prinsip–prinsip dan standar didalam akuntansi, yang berarti laporan keuangan disusunberdasarkan prosedur yang lazim dalam akuntansi.
c. Pendapat pribadi, pendapat pribadi dimaksudkan bahwa walaupun pencatatan transaksi telahdiatur oleh dalil-dalil yang telah ditetapkan yang sudah menjadi standar praktek pembukuan,namun semua itu tergantung pada manajemen perusahaan yang bersangkutan.
2.7 Pengertian Pajak
            Pajak adalah salah satu sumber penerimaan negara. Bahkan banyak negara yang mengandalkan penerimaan pajak sebagai sumber penerimaan negara yang utama, selain itu, pajak bai pemerintah merupakan sumber pendapatan yang cukup potensial untuk dapat mencapai keberhasilan pembangunan. Sedangkan bagi perusahaan pajak merupakan biaya yang bentuk pengembaliannya tidak diterima secara langsung, baik berupa barang, jasa atau dana sehingga beban pajak harus diperhitungkan dalam setiap keputusan yang melibatkannya.
            Adapun definisi pajak menurut para ahli yaitu Prof. Dr. H. Rochmat Soemitro SH. Pajak adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada kas negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan surplusnya digunakan untuk public saving smber dana utama untuk membiayai public investment.
2.7.1 Fungsi Pajak
            Adapun fungsi pajak ada dua yaitu:
1)      Fungsi Budgetair, yaitu pajak sebagai sumber dana bagi pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran
2)      Fungsi Mengatur (regulerend), yaitu pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi, contoh penerapan fungsi pajak tersebut yaitu:
a.       Pajak yang tinggi dikenakan terhadap minuman keras untuk mengurangi konsumsi minuman keras
b.      Pajak yang tinggi dikenakan terhadap barang-barang mewah untuk mengurangi gaya hidup konsumtif
c.       Tarif pajak untuk ekspor sebesar 0%, untuk mendorong ekspor produk indonesia di pasaran dunia
2.8 Aktiva Pajak Tangguhan (Deferred Tax Asset)
            2.8.1 Pengertian Aktiva Pajak Tangguhan
Aktiva pajak tangguhan adalah aktiva yang terjadi apabila perbedaan waktu menyebabkan koreksi positif yang berakibat beban pajak menurut akuntansi komersial lebih kecil dibanding beban pajak menurut Undang-Undang pajak ( Waluyo, 2008:217). Aktiva pajak tangguhan disebabkan jumlah pajak penghasilan terpulihkan pada periode mendatang sebagai akibat perbedaan temporer yang boleh dikurangkan dan sisa kompensasi kerugian. Besarnya aktiva pajak tangguhan dicatat apabila dimungkinkan adanya realisasi manfaat pajak di masa yang akan datang. Oleh karena itu dibutuhkan judgment untuk menaksir seberapa mungkin aktiva pajak tangguhan tersebut dapat direalisasikan.
Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (2007), nilai tercatat aktiva pajak tangguhan harus ditinjau kembali pada tanggal neraca. Perusahaan harus menurunkan nilai tercatat apabila laba fiskal tidak mungkin memadai untuk mengkompensasi sebagai atau semua aktiva pajak tangguhan. Penurunan tersebut harus disesuaikan kembali apabila besar kemungkinan laba fiskal memadai. Dengan adanya kewajiban untuk melakukan peninjauan kembali pada tanggal neraca, maka setiap tahun manajemen harus membuat suatu penilaian untuk menentukan saldo aktiva pajak tangguhan dan pencadangan aktiva pajak tangguhan, sedangkan penilaian manajemen utnuk menentukan saldo cafangan aktiva pajak tangguhan tersebtu bersifat subjektif.
Dengan diberlakukannya PSAK No 46 yang mensyaratkan para manajer untuk mengakui dan menilai kembali aktiva pajak tangguhan yang dapat disebut pencadangan nilai aktiva pajak tangguhan. Peraturan ini dapat diberikan kebebasan manajemen untuk menentukan kebijakan akuntansi yang digunakan dalam penilaian aktiva pajak tangguhan pada laporan keuangan yang digunakan dalam penilaian aktiva pajak tangguhan pada laporan keuangannya, sehingga dapat digunakan untuk mengindikasikan ada tidaknya rekayasa laba atau manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan dalam laporan keuangan yang dilaporkan dalam rangka menghindari penurunan atau kerugia laba.

2.9 Beban Pajak Tangguhan (deferred Tax Expense)
2.9.1 Pengertian Pajak Tangguhan
Pajak tangguhan merupakan jumlah pajak penghasilan yang terutang (payable) atau terpulihkan (recovarable) pada tahun mendatang sebagai akibat adanya perbedaan temporer yang boleh dikurangkan dari sisa kompensasi kerugian yang dapat dikompensasikan. Pengakuan pajak tangguhan berdampak terhadap berkurangnya laba atau rugi bersih sebagai akibat adanya kemungkinan pengakuan beban pajak tangguhan dan manfaat pajak tangguhan . menurut PSAK No 46, pajak tangguhan adalah jumlah pajak penghasilan untuk periode mendatang sebagai akibat dari perbedaan temporer (waktu) yang boleh dikurangkan dan sisa kompensasi kerugian.
Pajak tangguhan pada prinsipnya merupakan dampak PPh di masa yang akan datang yang disebabkan oleh perbedaan temporer (waktu) antara perlakuan akuntansi dan perpajakan serta kerugian fiskal yang masih dapat dikompensasikan di masa datang (tax loss carry foward) yang perlu disajikan dalam laporan keuangan dalam suatu periode tertentu.
Pajak tangguhan terjadi akibat perbedaan antara PPh terutang (pajak penghasilan yang dihitung berbasis pada penghasilan kna pajak yang sesungguhnya dibayar kepada pemerintah) dengan beban pajak penghasilan (pajak penghasilan yang dihitung berbasis penghasilan sebelm pajak) sepanjang menyangkut perbedaan temporer. Kewajiban pajak tangguhan maupun aset pajak tangguhan dapat terjadi dalam hal-hal sebagai berikut:
1)      Apabila penghasila sebelum pajak-PSP (Pretax Accounting Income) lebih besar dari penghasilan kena pajak-PKP (taxible Income), maka beban pajak-BP (Tax Expense) pun akan lebih besar dari pajak terutang PT (Tax Payable), sehingga akan menghasilkan kewajiban pajak tangguhan (Deferred Taxees Liabiliy). Kewajiban pajak tangguhan dapat dihitung dengan perbedaan temporer degan tarif pajak yang berlaku.
2)      Sebaliknya apabila penghasilan sebelum pajak (PSP) lebih kecil dari penghasilan kena pajak (PKP), maka beban pajak (BP juga lebih kecil dari tarif terutang (PT), maka akan menghasilkan Aktiva Pajak Tangguhan (Deferred Tax Assets). Aktiva pajak tangguhan adalah sama dengan perbedaan temporer dengan tarif pajak pada saat perbedaan tersebut terpulihkan.

2.9.2 Metode Beban Pajak Tangguhan
Metode pajak tangguhan menurut Suandy( 2008:103) menggunakan pendekatan laba rugi memandang perbedaan perlakuan akuntansi dan perpajakan dari sudut pandang laporan laba rugi, yaitu kapan transaksi diakui dalam laporan laba rugi. Kelemahan dan keunggulan metode beban pajak tangguhan ini adalah sebagai berikut:
a.       Kewajiban mengungkapkan secara terpisah berkenaan dengan pajak tangguhan di neraca dan laba rugi perusahaan dan tidak bergabung dengan nilai aset individu
b.      Objektif bila dibandingkan dengan metode kewajiban karena tidak menggunakan estimasi atau asumsi yang berkenaan dengan waktu pemulihan penghasilan kena pajak
c.       Menekankan pada pengukuran seberapa besar pengamatan pajak kini akibat perbedaan temporer tersebut yang dialokasikan pada periode mendatang
d.      Tidak terdapatnya konsep mendasar atau teori yang rasional yang mempermasalahkan kredit pajak tangguhan
2.10 Penelitian Terdahulu
            Penelitian mengenai aktiva pajak tangguhan, beban pajak tangguhan telah banyak dilakukan dalam penelitian-penelitian sebelumnya. Penelitian-penelitian tersebut banyak memberikan kontribusi tambahan bagi akuntan pihak perpajakan dalam mendeteksi dan mengatasi terjadinya praktik kinerja laporan keuangan. Menujukan hasil penelitian terdahulu mengenai kemampuan pajak tangguhan dalam mendeteksi kinerja laporan keuangan.
Tabel 2.1
Sumber Jurnal
Peneliti (Tahun)
Judul Penelitian
Variabel Penelitian
Hasil Penelitian
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta
Susi Lestari (2018)
Pengaruh Perencanaan Pajak, Beban Pajak Tangguhan, Aset Pajak Tangguhan, Kepemilikan Manajerial dan Free Cash Flow Terhadap Manajemen Laba
Manajemen Laba, Perencanaan Pajak, Beban Pajak Tangguhan, Aset Pajak Tangguhan, Kepemilikan Manajerial, Free Cash Flow
Hasil penelitian ini menujukan bahwa variabel perencanaan pajak, beban pajak tangguhan, aset pajak tangguhan, dan kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Sementara itu, variabel free cash flow berpengaruh terhadap manajemen laba
Journal.unj.ac.id Fakultas Ekonomi – Universitas Negeri Jakarta
Benny Casanova, Masellisa Nindito 2015
Pengaruh Aktiva Pajak Tangguhan dan Rasio Pajak Terhadap Kinerja Laporan Keuangan Pada Perusahaan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Aset Pajak Tangguhan, Rasio Pajak, Kinerja Keuangan Perusahaan
Hasil penelitian ini menujukan bahwa aset pajak tangguhan dapat mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Ini terjadi karena jumlah aset dapat mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Di sisi lain, rasio pajak berdampak pada kinerja keuangan perusahaan karena posisi negatif yang diperoleh dalam penelitian ini menujukan bahwa peningkatan rasio pajak dapat menurunkan kinerja keuangan perusahaan.
JIAFE (Jurnal Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi E-ISSN 2502-4159
Tiara Timuriana dan Rezwan Rizky Muhamad 2015
Pengaruh Aset Pajak Tangguhan Dan Beban Pajak Tangguhan Terhadap Manajemen Laba
Ase Pajak Tangguhan, Beban Pajak Tangguhan, dan Manajemen Laba
Hasil penelitian inii dapat disimpulkan bahwa Aset Pajak tangguhan berpengaruh terhadap manajemen laba, Beban Pajak Tangguhan tidak berpengaruh terhadap manajemen laba dan aset pajak tangguhan dan beban pajak tangguhan secara bersama-sama berpengaruh terhadap manajemen laba
Faculty of Business Widya Mandala Catholic University Surabaya
Sanjaya, Christine (2016)
Pengaruh Pajak Tangguhan dan Tax Book Ratio Terhadap Kinerja Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di BEI tahun 2011-2014
Corporate governance, indeks pengungkapan wajib, ketepatan penyampaian informasi, komposisi aktiva, kesempatan tumbuh, ukuran perusahaan dan kinerja perusahaan
Hasil penelitian ini adalah ada pengaruh yang signifikan dan positif antara corporate governance terhadap kinerja perusahaan, ada pengeruh yang signifikan dan posistif anatara indeks pengungkapan wajib terhadap kinerja perusahaan, tidak ada pengaruh yang signifikan antara ketepatan penyampaian informasi terhadap kinerja perusahaan, tidak ada pengaruh yang signifikan antara komposisi aktiva terhadap kinerja perusahaan, tidak ada pengaruh yang signifikan antara kesempatan tumbuh terhadap kinerja perusahaan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhamaddiyah Surakarta
Tika Agustina (2019)
Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Keuangan Perusahaan
Kinerja keuangan perusahaan, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, kepemilikan asing, dewan komisaris independen, struktur modal, dan ukuran perusahaan
Hasil penelitian ini menujukan bahwa struktur modal dan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap kinerja keuangan
 perusahaan, kepemilikan asing dan dewan komisaris independen tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan
Jurnal Akuntansi Fakultas Ekonomi
Yoppy Purnawan, Tahun 2016
Pengaruh Aktiva Pajak Tangguhan, Beban Pajak Tangguhan, Beban Pajak Kini dan Basis Akrual Terhadap Manajemen Laba
Aktiva Pajak Tangguhan, Beban Pajak Tangguhan, Manajemen Laba
Aktiva pajak tangguhan todak memiliki pengaruh terhadap Manajemen Laba. Beban Pajak Tangguhan memiliki pengaruh terhadap Manajemen Laba. Beban Pajak Kini memiliki pengaruh terhadap manajemen laba. Basis Akrual memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba
Eprints universitas Diponegoro Institutional Repository
Hajianto, Aris Wahyu dan Faisal (2015)
Analisis Pengaruh Ukuran Pengungkapan Laporan Keuangan dan Tahunan Perusahaan terhadap Kinerja Perusahaan
Laporan Tahunan, Laporan Keuangan, Ukuran Pengungkapan, Kinerja Perusahaan
Hasil penelitian ini menujukan bahwa terdapat hubungan positif tidak signifikan antara pengungkapan ukuran perusahaan laporan keuangan dan kinerja perusahaan. Hipotesis lainnya menujukan bahwa terdapat hubungan positif tidak signifikan antara pengungkapan ukuran pengungkapan laporan tahunan dan kinerja perusahaan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Negeri Islam Surakarta
Sarwanti (2019)
Penilaian Kualitas Laporan Keuangan Menggunakan Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan
Relevansi, Penyajian Jujur, IFRS
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan kualitas relevansi dan penyajian jujur laporan keuangan di indonesia masih mengalami kenaikan dan penurunan yang berfluktuasi, hal ini dikarenakan adanya adopsi IFRS yang masih bertahap
Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Dewi Pindiharti
Pengaruh Aktiva Pajak Tagguhan, Beban Pajak Tangguhan dan Akrual Terhadap Earning Management
Manajemen Laba, Aktiva Pajak Tangguhan, Beban Pajak Tangguhan, dan Akrual
Hasil penelitian ini menemukan bahwa beban pajak tangguhan dan akrual memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kemungkinan perusahaan melakukan praktik manajemen laba sedangkan, aktiva pajak tangguhan tidak memiliki pengaruh signifikan. Hal ini menujukan bahwa penggunaan beban pajak tangguhan dan akrual sebagai prokso manajemen laba masih valid

2.11 Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran dalam penelitian ini menujukan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Variabel independen dalam penelitian ini adalah beban pajak tangguhan dan aktiva pajak tangguhan. Sedangkan variabel dependennya adalah kinerja laporan keuangan. Adapun kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar  berikut ini :
 



BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian
            Pendekatan penulisan yang digunakan penelitian ini yaitu pendekatan kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang dilakukan dengan mengumpulkan data yang berupa angka, atau dengan data berupa kata-kata atau kalimat yang diubah menjadi data yang berbentuk angka. Jenis penelitian ini megelola data Aktiva Pajak Tangguhan, Beban Pajak Tangguhan yang kemudian dilihat pengaruhnya terhadap kinerja laporan keuangan.
3.2 Definisi Operasional Variabel
            Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah aktiva pajak tangguhan serta beban pajak tangguhan sebagai variabel bebas yang mempengaruhi laporan keuangan perusahaan sebagai variabel terkait. Adapun definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini yakni:
a)      Variabel Independen (X)
1        Aktiva Pajak Tangguhan (X1)
Aktiva pajak tangguhan adalah saldo akun di nearaca sebagai manfaat pajak yang jumlahnya merupakan jumlah estimasi yang akan


dipulihkan dalam periode yang akan datang sebagai akibat adanya perbedaan sementara antara standar akuntansi keuangan dengan peraturan perpajakan dan akibat adanya saldo kerugian yang dapat dikompesansikan pada periode mendatang. Dalam penelitian ini aktiva pajak tangguhan sebagai variabel bebas yang diukur dengan perubahan nilai aktiva pajak tangguhan pada periode t dengan t-1 dibagi dengan nilai aktiva pajak tangguhan pada akhir periode t. (Waluyo, Akuntansi Pajak (Jakarta : Salemba Empat 2008))
            APTit = aktiva pajak tangguhan it
                                      aktiva pajak tangguhan t

2        Beban Pajak Tangguhan (X2)
Beban pajak tangguhan adalah beban yang timbul akibat perbedaan antara laba akuntansi (yaitu laba dalam laporan keuangan untuk kepentingan pihak eksternal) dengan laba fiskal (laba yang digunakan sebagai dasar perhitungan pajak). Perbedaan antara laporan keuangan, standar akuntansi dan fiskal disebabkan dalam penyusunan laporan keuangan standar akuntansi lebih memberikan keluasan bagi manajemen dalam menentukan prinsip dan asumsi dibandingkan yang diperoleh menurut pajak. Perhitungan tentang beban pajak tangguhan dihitung dengan menggunakan indikator membobot beban pajak tangguhan dengan total aktiva atau asset, hal ini dilakukan untuk pembobotan beban pajak tangguhan dengan total aset pada periode t-1 untuk memperoleh nilai yang terhitung dengan proposional. (Waluyo, Akuntansi Pajak (Jakarta : Salemba Empat 2008))
DTE it = beban pajak tangguhan
Total asset t-1
3        Variabel Dependen (Y)
laporan keuangan terhadap suatu perusahaan digunakan untuk mengetahui keadaan dan perkembangan keuangan perusahaan terutama bagi pihak manajemen. Hasil analisis dapat digunakan untuk melihat kelemahan perusahaan selama periode waktu berjalan. Sedangkan hasil yang cukup baik harus dipertahankan pada waktu mendatang. Dalam manganalisis dan menilai posisi keuangan dan potensi perusahaan, langkah-langkah yang harus dilakukan adalah menghitung rasio likuiditas, rasio leverage rasio aktivitas dan rasio profitabilitas.
1)  Rasio Profitabilitas
a) Return on Assets(ROA)
ROA menunjukkan kemampuan perusahaan dengan menggunakan seluruh aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan laba setelah pajak. Rasio ini penting bagi pihak manajemen untuk mengevaluasi efektivitas dan efisiensi manajemen perusahaan dalam mengelola seluruh aktiva perusahaan. Semakin besar ROA, berarti semakin efisien penggunaan aktiva perusahaan atau dengan kata lain dengan jumlah aktiva yang sama bisa dihasilkan laba yang lebih besar, dan sebaliknya.
𝑅𝑒𝑡𝑢𝑟𝑛 𝑜𝑛 𝐴𝑠𝑠𝑒(ROA)= 𝐸𝑎𝑟𝑛𝑖𝑛𝑔 𝐴𝑓𝑡𝑒𝑟 𝑇𝑎𝑥𝑒𝑠
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠






3.3 Populasi dan Sample
            Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusaahan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan periode pengamatan penelitian dilakukan dari tahun 2015-2018. Metode pemilihan sample            dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Purposive sampling  merupakan teknik penentuan sample berdasarkan pertimbangan- pertimbangan tertentu yang didasarkan pada tujuan penelitian. Aplikasi purposive sampling  dalam penelitian ini adalah pemilihan sampel berdasarkan kriteria sebagai berikut:
1.      Sampel merupakan perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor textil pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode tahun 2015-2018
2.      Perusahaan tersebut tidak mengalai delesting
3.      Perusahaan yang melaporkan laporan keuangan yang telah di audit dari tahun 2015-2018 dan mempublikasikan laporan keuangan untuk tahun yang berakhir dan per 31 desember
4.      Perusahaan melaporkan aktiva pajak tangguhan dan beban pajak tangguhan pada tahun-tahun tertetntu, yaitu antara tahun 2015-2018
5.      Perusahaan melaporkan laporan keuangan dalam satuan mata uang rupiah (IDR)
Dari syarat-syarat diatas didapatkan hasil sebagai berikut:
a.       Terdapat 21 perusahaan Textill yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
b.      Tidak terdapat perusahaan yang mengalami delisting
c.       Terdapat 5 perusahaan yang tidak mempublish Laporan Keuangan.
Tabel 3.1
Hasil Seleksi Sampel
No
Kriteria
Jumlah
1
Jumlah Perusahaan Textill yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2015-2018
21 Perusahaan
2
Perusahaan yang tidak menerbitkan laporan tahunan
(5) Perusahaan
3
Perusahaan yang mempublikasikan laporan tahunan tahun 2015-2018
16 perusahaan
4
Sampel Perusahaan
16 perusahaan
5
Total observasi selama (16 x 4 tahun)
64 Perusahaan





3.4 Metode Pengumpulan Data
            Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara. Data sekunder yang digunakan berupa laporan keuangan setiap perusahaan sampel periode tahun 2015-2019. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi dengan cara mengumpulkan data-data yang dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).
3.5 Metode Analisis Data
3.5.1 Analisis Deskriptif
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan statistik deskriptif. Metode deskriptif kuantitatif adalah metode analisis data yang menggambarkan perhitungan angka-angka dan dijelaskan hasil-hasil perhitungan berdasarkan literatur yang ada.
Statistik deskriptif merupakan statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Menggunakan analisis deskriptif dilakukan untuk mengetahui tentang pengaruh Aktiva Pajak Tangguhan, Beban Pajak Tangguhan yang terdaftar di BEI. Dengan menggunakan Uji Regresi Linear Berganda untuk menganalisis pengaruh Aktiva Pajak Tangguhan, Beban Pajak Tangguhan terhadap Kinerja Laporan Keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.


3.6    Uji Instrumen Penelitian
Mengingat metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dan data penelitian yang digunakan adalah data sekunder, maka untuk memenuhi syarat yang ditentukan sehingga penggunaan model regresi linier berganda perlu dilakukan pengujian atas beberapa asumsi klasik yang digunakanyaitu: ujinormalitas , uji heteroskedastisitas, uji multikolinieritas,uji autokorelasi danuji linearitasyang secararinci dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui suatu populasi suatu data dapat dilakukan dengan analisis grafik. Salah satu cara termudah untuk melihat normalitas residual adalah dengan melihat grafik histogram dan normalitas residual adalah denganmelihat grafik histrogram dan normal probabilityplot yang membandingkan distribusi kumulatif dari data sesungguhnya dengan distribusi kumulatif dari distribusi normal. Jika distribusi data residual normal, maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti garis digonalnya. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi normal atau mendekati normal. (Imam Ghozali,
2. Uji Autokorelasi
Autokorelasi adalah keadaan dimana tejadinya korelasi antara residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi. Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya korelasi yang terjadi antara residual pada saat pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi. (Imam, Ghozali) Metode pengujian menggunakan uji Durbin-Watson (uji DW) dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Jika d lebih kecil dari dl atau lebih besar dari (4-dl), maka hipotesis nol ditolak, yang berarti terdapat autokorelasi.
2. Jika d terletak antara du dan atau diantara (4-du), maka hipotesi s nol diterima, yang berarti tidak ada autokorelasi.
3. Jika d terletak antara dl dan du atau diantara (4-du) dan (4-dl), maka tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti.
3. Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas adalah keadaan dimana terjadi ketidaksamaan varian dari residual untuk semua pengamatan pada model regresi. Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya ketidaksamaan varian dari residual pada model regresi. Prasyarat yang harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya masalah heteroskedastisitas. Ada beberapa metode pengujian yang biasa digunakan diantaranya, yaitu uji spearman’s rho, yaitu mengkorelasikan nilai residual (unstandaradized residual) dengan masing-masing variabel independen. Jika signifikan korelasi kurang dari 0,05 maka pada model regresi terjadi masalah heteroskedastisitas. (Duwi, Priyatno)
4. Uji Multikolinieritas
Pendekataan multikolinieritas dapat dilakukan dengan menilai (VIF) dari hasil analisis regresi. Dikatakan terjadi multikolinieritasjika koefisien korelasi antara variabel bebas (X1X2, dan seterusnya) lebih besar dari 0,60 (pendapat lain : 0,50 dan 0,90). Dikatakan tidak terjadi multikolinieritas jika koefisien korelasi antara variabel bebas lebih kecil atau sama dengan 0,60 (r ≤0,60). Jika tolerance ≤ 0,10 dan VIF > 10 maka terjadi gejala multikolinieritasyang tinggi. (Duwi, Priyatno)
5. Uji Liniearitas
Uji Linearitas adalah suatu uji yang digunakan untuk mengetahui apakah dua variabel mempunyai hubungan yang linear atau tidak secara signifikan. Uji ini digunakan untuk sbagai prasyarat dalam analisis regresi linear. Pengujian pada SPSS dengan meeenggunakan Test For Linearity dengan pada tarif signifikan 0,05. Dua variabel dikatakan mempunyai hubungan yang linear bila signifkan kurang dari 0,05.
3.7 Analisis Regresi Linier Berganda
Metode analisis yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah dengan memakai metode analisis regresi linier berganda untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai hubungan antara variabel satu dengan variabel yanglain. Dalam hal ini untuk variabel independennya adalah Aktiva Pajak Tangguhan dan Beban Pajak Tangguhan dan variabel dependennya adalah Kinerja Laporan Keuangan . Untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen maka digunakan model regresi linier berganda (multiple linier regression method), Menurut (Danang Sunyoto, Duwi Priyatno) yang dirumuskan sebagai berikut :
Y = a + b1X1 + b2X2+ e
Dimana :Y= Nilai prediksi variabel dependen
a= Konstanta, yaitu jika X1,X2 = 0
b1b2= Koefisien regresi, yaitu nilai peningkatan atau penurunan variabel Y yang didasarkan variabel X1,X2,
 X1= Variabel independen (Aktiva Pajak Tangguhan)
X2= Variabel independen (Beban Pajak Tangguhan)
e = error
3.7.1 Uji Hipotesis
Uji hipotesis adalah pengujian yang bertujuanuntuk mengetahui apakah kesimpulan pada sampel dapat berlaku untuk populasi (dapat digeneralisasi). Perhitungan statistik disebut signifikan secara statistik apabila nilai uji statistiknya berada dalam daerah kritis (daerah dimana Hoditolak). Sebaliknya disebut tidak signifikan bila nilai uji statistiknya berada dalam daerah dimana Hoditerima.
3.7.2 Uji t (Parsial)
Pengujian ini dilakukan untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel tidak bebas atau terikat secara terpisah atau parsial serta penerimaan atau penolakan hipotesa. Pengujian ini dilakukan berdasarkan perbandingan nilai thitung masing-masing koefisien regresi dengan nilai ttabel(nilai hitung tabel kritis). dengan tingkat signifikan 5% dengan derajat kebebasan df= (n-k-1), dimana nadalah jumlah observasi dan k adalah jumlah variabel.
a. Jika thitung< ttabel (n-k-1), maka Hoditerima artinya variabel hitung
tabel independen (Aktiva Pajak Tangguhan, Beban Pajak Tangguhan dan Perencanaan Pajak ) tidak berpengaruh terhadap variabel dependen (Manajemen Laba).
b. Jika thitung > ttabel (n-k-1), maka Hoditolak dan menerima Hahitung tabel artinya variabel independen (Aktiva Pajak Tangguhan, Beban Pajak Tangguhan) berpengaruh terhadap variabel dependen (Kinerja Laporan Keuangan).


3.7.3 Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi (R2) diukur untuk mengetahui sejauh mana kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi yang biasanya diberi simbol R2 menunjukkan hubungan pengaruh antara dua variable yaitu variabel independen (Aktiva Pajak Tangguhan, Beban Pajak Tangguhan dan variabel dependen (Kinerja Laporan Keuangan) dari hasil perhitungan tertentu.


DAFTAR PUSTAKA
PSAK No. 46 Pajak Penghasilan (2010). “Exposure Draft Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan”. Ikatan Akuntansi Keuangan
Laidian, Sufliya. “kasus Pada PT. PLN (PERSERO) Distribusi Bali Mengenai Manipulasi Pajak Tangguhan”. Dari http://student-research.umm.ac.id/index.php/deptofaccounting/article/view/5206
Purba, Marisi. 2009. “Akuntansi Pajak Penghasilan”. Yogyakarta:Andi
Waluyo. 2008. “Akuntansi Pajak. Jakarta:Salemba Empat.
Suandy (2008). “Pajak Tangguhan (Deffered Tax Expense)”. Jakarta
Benny, Cassanova (2015). “pengaruh Aktiva Pajak Tangguhan dan Rasio Pajak Terhadap Kinerja Laporan Keuangan Pada Perusahaan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”. Jurnal Akuntansi Ekonomi
Dewi, Pindiharti (2011). “Pengaruh Aktiva Pajak Tangguhan, Beban Pajak Tangguhan dan Akrual Terhadap Earning Manajemen”. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Kasmir, 2010. “Analisis Laporan Keuangan” Rajawali Pers. Jakarta
Munawir, 2012. “ Kinerja Keuangan”.  Jakarta
Harahap, 2001. “Laporan Keuangan”. Jakarta
Yoppy, Purnawan. 2016. “Pengaruh Aktiva Pajak Tangguhan, Beban Pajak Tangguhan, Beban Pajak Kini dan Basis Akrual Tehadap Manajemen Laba”. Jurnal Akuntansi Fakultas Ekonomi.
Duwi Priyatno (2010). ”Paham Analisa Statistik Data Dengan SPSS”. Yogyakarta
Ghozali, Imam (2009). “Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program Spss”. Semarang : Universitas Diponegoro.

No comments:

Post a Comment