Pages

Friday, November 17, 2017

Artikel Bacaan shalat Jenazah Jilid 12

Sholat jenazah merupakan sholat yang dilaksanakan ketika ada seorang muslim yang meninggal dunia, tata cara shalat jenazah tidak perlu melakukan rukuk dan sujud, cukup dengan keadaan berdiri saja, lalu takbir sebanyak 4 kali diselingi dengan bacaan doa tertentu, lalu kemudian diakhiri dengan salam. hukum melaksanakannya adalah fardhu kifayah.

Meski begitu terkadang jarang umat islam yang mengetahui persis cara pengerjaannya, maka dari itu artikel kali ini akan membahasnya secara detail dan lengkap mengenai panduan dan tata cara sholat jenazah yang baik dan benar, hukum melaksanakan sholat jenazah, bacaan doa sholat jenazah beserta artinya baik dalam versi arab maupun versi latin/indonesia, lalu juga disertai rukun, syarat, dan dalil tentang sholat mayit serta manfaat dan keutamaannya. semuanya dibahas secara lengkap di artikel kali ini.


 
Hukum Sholat Jenazah

Hukum Sholat Jenazah adalah Fardhu Kifayah” artinya wajib bagi kita umat muslim untuk mensholati muslim lainnya yang telah meninggal, jika tidak dilaksanakan maka ini menjadi tanggung jawab seluruh umat muslim.


Dalil keutamaan Sholat Jenazah :

Nabi Muhamad SAW bersabda dalam hadistnyatentang keutamaan sholat jenazah :



“Barangsiapa yang menghadiri jenazah hingga ikut menshalatkannya, maka dia mendapatkan satu qirath, dan barangsiapa yang menyaksikannya hingga ikut mengantar ke kubur, maka mendapatkan dua qirath”. Ditanyakan, “Apakah yang dimaksudkan dengan dua qirath itu? ” Beliau menjawab, “Seperti dua gunung yang besar.” (HR. Muttafaq ‘alaih)


Rukun Sholat Jenazah :

  1. Niat
  2. Berdiri bila mampu
  3. Empat kali takbir yang diselingi oleh beberapa bacaan
  4. Membaca al-Fatihah secara sirr setelah takbir pertama berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Nasa’i, bahwa: “Menurut sunnah, bahwa dalam shalat jenazah hendaknya membaca Ummil Quran (al-Fatihah) dengan pelan-pelan dalam takbir pertama”
  5. Membaca shalawat kepada Nabi saw setelah takbir kedua
  6. Mendoakan mayat setelah takbir ketiga
  7. salam


Niat Sholat Jenazah :

Niat untuk jenazah laki-laki :

"Ushalli 'alaa haadzal mayyiti arba'a takbiiraatin fardhal kifaayati makmuuman/imaaman lillaahi ta'aalaa"

Artinya : Saya niat shalat atas mayyit (laki-laki) ini empat takbir fardhu kifayah karena Allah SWT.

Niat untuk jenazah perempuan : 

"Ushalli 'alaa haadzihil maytati arba'a takbiiraatin fardhal kifaayati makmuuman/imaaman lillaahi ta'aalaa"

Artinya : Saya niat shalat atas mayyit (perempuan) ini empat takbir fardhu kifayah karena Allah SWT.
Tata Cara Sholat Jenazah :

Takbir Pertama

Setelah takbir dilanjutkan dengan membaca ta'awudz lalu dilanjutkan dengan membaca al fatihah, tanpa disertai dengan doa iftitah ataupun surat pendek seperti sholat pada umumnya. ini berdasarkan pendapat banyak ulama bahwa dalam sholat jenazah tidak diwajibkan membaca doa iftitah.

Bacaan Ta'awwudz :

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم


A'uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim

Artinya : Aku berlindung dari syaitan yang terkutuk

Lalu Dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah.

Takbir kedua

Bacaan setelah takbir kedua yaitu membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. berikut bacaan doanya . . .

أللهم صَلِّ علي محمد وعلي ألِ محمد كما صَلَيْتَ علي إبراهيم وعلي أل إبراهيم وبارِكْ علي محمد وعلي أل محمد كما باركت علي إبراهيم وعلي أل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد


Allaahumma shalli 'alaa muhammadin, wa 'alaa aali muhammadin, kamaa shallaita 'alaa ibraahiima, wa 'alaa aali ibraahiima. Wa baarik 'alaa muhammadin, wa 'alaa aali muhammadin, kamaa baarakta 'alaa ibraahiima, wa 'alaa aali ibraahiima. Fil 'aalamiina innaka hamiidum majiid.

Artinya :

“Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Berilah berkah kepada Muhammad dan keluarganya (termasuk anak dan istri atau umatnya), sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.”

Takbir ketiga

Bacaan doa setelah melakukan takbir ketiga adalah sebagai berikut . . .

اللهم اغْفِرْ لَهُ وارْحَمهُ وعافِهِ واعفُ عنه وأَكْرِمْ نُزولَهُ ووسِّعْ مَدخلَهُ واغْسِلْهُ بِماءٍ وثَلْج وبَرَدٍ ونَقِهِ من الخَطايا كما يُنَقَي الثَوبُ الأَبْيَضُ مِنِ الدَنَسِ وأَبْدِلْهُ دارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وأَهْلًا خَيْراً من أهلِهِ وَزَوْجًا خَيْراً مِن زَوْجِهِ وَقِهِ فِتْنَةَ القَبْرِ وعَذَابَ النارِ



Allaahummaghfirlahu, warhamhu, wa 'aafihi, wa'fu 'anhu, wa akrim nuzuulahu, wa wassi' madkhalahu, waghsilhu bimaa-in watsaljin wabaradin, wanaqqihi minal khathaayaa kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minaddanasi, wa abdilhu daaran khairan min daarihi, wa ahlan khairan min ahlihi, wa zaujan khairan min zaujihi, waqihi fitnatal qabri wa 'adzaabannaar.

Artinya :

Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, maafkanlah dia, ampunilah kesalahannya, muliakanlah kematiannya, lapangkanlah kuburannya, cucilah kesalahannya dengan air, es dan embun sebagaimana mencuci pakaian putih dari kotoran, gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik, gantilah keluarganya dengan keluarga yang lebih baik, gantilah istrinya dengan isri yang lebih baik, hindarkanlah dari fitnah kubur dan siksa neraka.

Takbir ke empat

Bacaan doa setelah takbir ke empat yaitu membaca doa di bawah ini . . . .

اللهُمّ لاتَحرِمْنا أَجْرَهُ ولاتَفْتِنّا بَعدَهُ

Allaahumma laa tahrimnaa ajrahu, walaa taftinnaa ba'dah

Artinya :

Ya Allah, janganlah Engkau haramkan Kami dari pahalanya, dan janganlah Engkau beri fitnah pada kami setelah kematiannya.

Salam

Terakhir adalah melakukan salam dengan menengok ke kanan dan kekiri sebagaimana dalam sholat biasanya . . .

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh

Artinya :

"Keselamatan, rahmat Allah dan keberkahan-Nya semoga untuk kalian semua"


Bacaan Doa Sholat Jenazah :

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ [وَعَذَابِ النَّارِ]


[Alloohummaghfir lahu Warhamhu Wa ‘Aafihi Wa’fu ‘ahu, Wa Akrim Nuzulahu, Wa Wassi’ Madkholahu, Waghsilhu Bil Maa’i WatsTsalji Wal Barodi, Wa Naqqihi Minal Khothooyaa Kamaa Naqqaitats Tsaubal Abyadho Minad Danasi, Wa Abdilhu Daaron Khoiron Min Daarihi, Wa Ahlan Khoiron Min Ahlihi, Wa Zaujan Khoiron Min Zaijihi, Wa Adkhilhul Jannata, Wa A’idhu Min ‘Adzaabil Qabri]

Ya Allah, Ampunilah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempat-kanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.” (HR. Muslim 2/663)

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيْرِنَا وَكَبِيْرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا. اَللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى اْلإِسْلاَمِ، وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلإِيْمَانِ، اَللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تُضِلَّنَا بَعْدَهُ.


[Alloohumaghfir Lihayyinaa Wa Mayyitinaa Wa Syaahidinaa Wa Ghoo’ibinaa Wa Shoghiirinaa Wa Kabiirinaa Wa Dzakarinaa Wa Untsaanaa. Alloohumma Man Ahyaitahu Minnaa Fa Ahyihi ‘Alal Islaam, Wa Man Tawaffaitahu Minnaa Fatawaffahu ‘Alal Iimaan. Alloohumma Laa Tahrimna Ajrahu Wa Laa Tudhillanaa Ba’dahu]

“Ya Allah! Ampunilah kepada orang yang hidup di antara kami dan yang mati, orang yang hadir di antara kami dan yang tidak hadir ,laki-laki maupun perempuan. Ya Allah! Orang yang Engkau hidupkan di antara kami, hidupkan dengan memegang ajaran Islam, dan orang yang Engkau matikan di antara kami, maka matikan dengan memegang keimanan. Ya Allah! Jangan menghalangi kami untuk tidak memper-oleh pahalanya dan jangan sesatkan kami sepeninggalnya.” ( HR. Ibnu Majah 1/480, Ahmad 2/368, dan lihat Shahih Ibnu Majah 1/251)

اَللَّهُمَّ إِنَّ فُلاَنَ بْنَ فُلاَنٍ فِيْ ذِمَّتِكَ، وَحَبْلِ جِوَارِكَ، فَقِهِ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ، وَأَنْتَ أَهْلُ الْوَفَاءِ وَالْحَقِّ. فَاغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


[Alloohumma Inna Fulaanabna Fulaanin Fii Dzimmatika, Wa Habli Jiwaarika, Fa Qihi Min Fitnatil Qobri Wa ‘Adzaabin Naari, Wa Anta Ahlal Wafaa’i Wal Haqqi. Faghfirlahu Warhamhu, Innaka Antal Ghofuurur Rohiim]

“Ya, Allah! Sesungguhnya Fulan bin Fulan dalam tanggunganMu dan tali perlindunganMu. Peliharalah dia dari fitnah kubur dan siksa Neraka. Engkau adalah Maha Setia dan Maha Benar. Ampunilah dan belas kasihanilah dia. Sesungguhnya Engkau, Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Penyayang.” (HR. Ibnu Majah. Lihat Shahih Ibnu Majah 1/251 dan Abu Dawud 3/21)

اَللَّهُمَّ عَبْدُكَ وَابْنُ أَمْتِكَ احْتَاجَ إِلَى رَحْمَتِكَ، وَأَنْتَ غَنِيٌّ عَنْ عَذَابِهِ، إِنْ كَانَ مُحْسِنًا فَزِدْ فِيْ حَسَنَاتِهِ، وَإِنْ كَانَ مُسِيْئًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ.

[Alloohumma ‘Abduka Wabnu Amatikahtaaja Ilaa Rohmatika, Wa Anta Ghoniyyun ‘An ‘Adzaabihi, In Kaana Muhsinan, Fa Zid Fii Hasanaatihi, Wa In Kaana Musii’an Fa Tajaawaz ‘Anhu]

Ya, Allah, ini hambaMu, anak ham-baMu perempuan (Hawa), membutuh-kan rahmatMu, sedang Engkau tidak membutuhkan untuk menyiksanya, jika ia berbuat baik tambahkanlah dalam amalan baiknya, dan jika dia orang yang salah, lewatkanlah dari kesalahan-nya. (HR. Al-Hakim. Menurut pendapatnya: Hadits ter-sebut adalah shahih. Adz-Dzahabi menyetujuinya 1/359, dan lihat Ahkamul Jana’iz oleh Al-Albani, halaman 125)


Nah, itu tadi sekilas mengenai bagaimana cara melaksanakan sholat jenazah secara lengkap beserta bacaan doa dan artinya. wajib bagi kita umat islam mengurus dan merawat jenazah serta mensholatkannya dikarenakan hukumnya adalah fardhu kifayah

JENIS TES KESASTRAAN JILID 11


JENIS TES KESASTRAAN

4.1 Penilaian Hasil Pembelajaran Sastra
Pengembangan soal-soal ujian harus mempertimbangkan karakteristik bidang studio Kompetensi yang ingin dicapai dalam pembelajaran bahasa dan sastra (Indonesia) secara jelas telah ditunjukkan dalam rumusan standar kompetensi yang kemudian dijabarkan menjadi kompetensi dasar dan indikator. Selain itu, ia haruslah pula memperhatikan hakikat bahasa dan sastra sebagai sebuah fakta sosial dan pendekatan pembelajaran bahasa dan sastra yang dipergunakan. Keduanya saling mengait. Di satu sisi, bahasa dan sastra merupakan bidang-bidang keilmuan, sedang di sisi lain bahasa dan sastra dibelajarkan kepada siswa lewat pendekatan tertentu yang sesuai dengan hakikat dan fungsinya. Pendekatan pembelajaran bahasa yang menekankan aspek kinerja bahasa dan fungsi bahasa adalah pendekatan komunikatif, sedang pembelajaran sastra yang menekankan kemampuan apresiasi sastra adalahpendekatan apresiatif.
4.2 Teknik Pembelajaran dan Jenis Tes Kesastraan
Evaluasi hasil pembelajaran sastra tidak dapat dipisahkan dari program pembelajaran sastra secara keseluruhan, terutama yang berkaitan dengan bahan dan teknik pembelajaran. Hal itu mudah dimengerti karena evaluasi adalah bagian dari kegiatan pembelajaran, yaitu yang dimaksudkan untuk mengukur seberapa baik siswa berhasil menguasai bahan dan atau pengalaman belajar yang dibelajarkan sesuai dengan target (baca: kompetensi) program pembelajaran. Pembelajaran yang baik mensyaratkan adanya kesejajaran antara bahan dan tenik pembelajaran dengan bahan dan teknik penilaian, karena adanya kesejajaran itu akan menyangkut masalah kelayakan (appropriateness) dan validitas (validity) penilaian (Tuckman & Ebel, dalam Nurgiyantoro, 2001). Jika bahan dan teknik pembelajaran bahasa dan sastra kurang tepat, dalam arti kurang mendukung target, evaluasi yang dilakukanjuga akanlebihmencenninkan kegiatan pembelajar-an itu. Jika pembelajaran bahasa dan sastra lebih ditekankan pada
4.3 Penilaian Pembelajaran Sastra Berbasis Kompentensi
Penjejalan pengetahuan mengenai aspek-aspek bahasa dan sastra sesuai dengan pandangan strukturalisme, penilaian yang dilakukan juga lebih banyak mengungkap pengetahuan siswa tentang hal-hal tersebut. Jika pembelajaran bahasa lebih bertujuan komunikatif dengan menekankari kemampuan siswa untuk berkomunikasi dengan bahasa sesuai dengan konteks, dan pembelajaransastra lebih bertujuan menumbuh dan meningkatkan kemampuan apresiasi sastra siswa, penilaian yang dilakukan juga haruslah berupa pengukuran kemampuan siswa berkomunikasi dengan bahasa dan berapresiasi sastra secara nyata. Jika terjadi ketidaksejajaran antara apa yang dibelajarkan dengan apa yang diujikan, siswa akan merasa sia-sia belajar dan dirugikan. Jika dilihat dari kualitas alat evaluasi, alat tersebut berarti tidak layak karena tidak mengukur apa yang telah dibelajarkan.
Baik pembelajaran bahasa yang komunikatif maupun pembelajaran sastra yang apresiatif menuntut pengukuran hasil pembelajaran yang sesuai yang tidak lagi hanya berupa tagihan-tagihan informatif. Evaluasi yang dilakukan haruslah yang benar-benar mengungkap kemampuan siswa berkomunikasi dan berapresiasi sastra.Tuntutan tersebut dalam hal tertentu memberatkan guru yang melakukan kegiatan pembelajaran di sekolah,terutama para guru yang telah terbiasa melal‟llkan evaluasi dengan sistem tagihan, kurang kemauan dan kesadaran untuk berubah, dan kurang berusaha mempelajari teknik yang baru. Jadi, mereka hanya memikirkan kebutuhan sendiri dan kurang memikirkan kebutuhan siswa. Namun, tuntutan itu tidak akan memberatkan para guru yang secara sadar mau mengajar sesuai dengan tuntutan kurikulum dan lebih memikirkan pencapaian target dan atau kebutuhan siswa. Yang dibutuhkan siswa adalah kemampuan untuk berkomunikasi dengan bahasa yang tepat dalam pembelajaran bahasa, dan kemampuan berapresiasi dalam pembelajaran sastra. Tercapainya kedua kebutuhan tersebut sedikit banyak akan memacu mereka untuk lebih bergairah membuca. Keterkaitan antara komponen kompetensi, bahan, dan teknik pembelajaran dengan penilaian dalam pembelajaran sastra amat erat.Penilaian dapat berfungsi ganda: mengungkap kemampuan apresiasi sastra siswa dan sekaligus menunjang tereapainya target pembelajaran sastra. Kedua fungsi itu akan tereapai seeara bersamaan jika evaluasi yang dilakukan bersifat apresiatif, dan bukan sekedar berupa tagihan pengetahuan yang informatif. Pemberian tes dan tugas-tugas kesastraan yang tepat akan berperanan besar bagi keberhasilan pembelajaran sastra. Oleh karena itu, pemberian tes dan tugas-tugas itu harus berfungsi ~enguatkan pemerolehan kemampuan apresiasi sastra siswa, bukan sebaliknya yang hanya mengesankan sebagai pemanggilan informasi belaka sekaligus pendangkalan makna apresiasi.
Di kelas guru memegang peranan penting untuk mengkreasikan kegiatan pem-belajaran dan penilaian yang apresiatif. Dalam banyak hal siswa akan tunduk kepada kreativitas dan kemauan guru dalam kegiatan pembelajaran karena mereka ingin mendapat nilai baik. Apa pun kreativitas guru, baik pembelajaran dan penilaian yang rendah kadar apresiatifnya dengan penekanan pada aspek struktural karya dan historis maupun yang tinggi kadar apresiatifnya yang seeara langsung melibatkan siswa pada karya sastra, siswa akan menyesuaikan diri. Artinya, apa dan bagaimana eara siswa belajar dan menjawab pertanyaan tes atau mengerjakan tugas-tugas akan tergantung pada apa dan bagaimana eara guru mengajar dan mengungkap hasil belajar. Kenyataan ini merupakan “kesempatan emas” bagi para guru untuk mengkreasikan pembelajaran seeara apresiatif dan langsung melibatkan siswa ke dalam karya. Masalahnya adalah sudah siapkah kita mengubah sikap danhaluan ke arah pembelajaran danpembuatan soal-soal evaluasi yang berkadar apresiatiftinggi?
Seeara umum dapat dikatakan bahwa bahan yang diteskan dan tugas-tugas yang diberikan kepada siswa, antara lain, haruslah sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif dan pengalaman mereka. Pemilihan bahan yang tepat akan menumbuhkan motivasi siswa untuk mempelajarinya seeara baik. Pemilihan kegiatan atau tugas-tugas dalam Penilaian Pembelajaran Sastra Berbasis Kompentensi (Nurgiyantoro, 102) “memperlakukan” karya sastra, atau pemilihan tugas-tugas tes kesastraan, secara tepat sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa, akan lebihmenantang siswauntuk m~ngerjakannya. Tes atau tugas-tugas kesastraan dalam penulisan ini dimaksudkan sebagai tes atau tugas-tugas yang dimaksudkan untuk mengungkap kemampuan apresiasi sastra siswa. Tes atau tugas-tugas tersebut dapat apresiatif, atau sebaliknya kurang apresiatif. Namun, kedua istilah tersebutbukan dalampengertian bertentangan, karena yang ada lebih merupakan masalah gradasi, atau tingkat-tingkat kadar keapresiatifan. Artinya, ada tes atau tugas yang berkadar apresiatif tinggi, sedang, danrendah.
Bagaimanakah kriteria tes atau tugas-tugas kesastraan yang apresiatif itu? Kata kunci untuk pengertian apresiasi adalah “membaca karya sastra secara langsung” Jadi, siswa betul-betul dihadapkan pada karya sastra tertentu, baik berupa puisi, cerpen, novel, atau drama. Mengingat bentuknya yang pendek, puisi paling praktis ditampilkan, namun tidak berarti fiksi dan drama tidak dapat disajikan. Guru yang kreatif akan dapat menemukan cara yang baik untuk menampilkannya, misalnya dengan mengambil sebagian yang penting atau penugasan pembacaan secara bertahap. Tes kesastraan yang apresiatif adalah tes yang berangkat dari karya sastra secara langsung, dan untuk dapat mengerjakannya siswa harns membaca karya itu sungguh-sungguh. Jadi, soal-soal atau tugas-tugas tersebut berupa “memperlakukan” secara langsung sebuah karya tertentu, baik berupa pengenalan, pengidentifikasian, pemahaman, penganalisisan, pemberian pertimbangan tertentu, penilaian, dan lain-lain. Tes atau tugas-tugas kesastraan yang demikian adalah tes atau tugas yang berkadar apresiatif tinggi.
Adakalanya kita membuat tes atau tugas-tugas kesastraan hanya berdasarkan sinopsis (fiksi atau drama, entah buatan sendiri atau orang lain) atau kutipan-kutipan kalimat tertentu atau baris-baris tertentu dari fiksi, drama, atilu puisi. Dengan kata lain, tugas itu tidak mensyaratkan siswa berhadapan langsung dengan sebuah karya. Tes atau tugas-tugas yang demikian memang tidak seapresiatif tugas-tugas yang dikemukakan di atas, namun masih juga mengandung unsur apresiasi yang “agak lumayan” atau berkadar “masih lebih baik daripada tidak saran sekali”, karena masih merujuk karya-karya tertentu walau tidak secara langsung. Tesatau tugas kesastraan tersebut dapat diidentifikasi sebagai tes atau tugas yang berkadar apresiatif sedang.
Dalam pembuatan soal-soal kesastraan, kita sering tergoda untuk membuat soal yang mudah (mungkin karena kita juga malas membaca karya, atau karena tuntutan), seperti soal-soal yang menanyakan hal-hal teoretis dan historis. Misalnya, soal yang menanyakan pengertianpengertian aspek intrinsik karya (tema, alur, penokohan, rima, irama) dan kesejarahan (kapan karya itu terbit, karya siapa, apa saja karya-karya pengarang itu). Tes atau tugas-tugas tersebut karena tidak secara langsung berkaitan dengan karya tertentu dan dapat dijawab tanpa siswa harus membaca suatu karya, adalah tes atau tugas kesastraan yang berkadarapresiatifrendah. . Persoalan yang kemudian muncul adalah perlu dan pentingkah tes atau tugas kesastraan yang rendah kadar apresiatifnya tersebut bagi siswa? Jawaban yang tepat adalahperlu tetapi tidak terlalu diperlukan, penting tetapi tidak begitupenting. Hal-hal tersebut dianggap perlu atau penting karena berperanan membantu meningkatkan daya apresiasi sastra. Jika mengetahui banyak masalah teori dan sejarah sastra, kita akan dapat semakin memahami dan menghargai suatu karya (yang dibaca).
Sebaliknya, hal-hal tersebut menjadi kurang perlu dan kurang penting karena yang dibutuhkan dan yang harus ditekankan adalah daya apresiasi siswa. Artinya, kemampuan siswa membaca, memahami, dan menghargai karya-karya sastra secara lebih baik, dan bukan sekedar pengetahuan siswatentang teori dankesejarahan karya. Tuntutan itu membawa konsekuensi dalam penilaian (dan otomatis juga: pembelajaran) kesastraan yang dimaksudkan untuk mengukur kemampuan apresiasi sastra siswa. Karena hanya berstatus Penilaian Pembelajaran Sastra Berbasis Kompentensi (Nurgiyantoro, 104.) “perlu tetapi tidak terlalu diperlukan, penting tetapi tidak begitu penting”, tes atau tugas-tugas yang berkaitan dengan hal-hal tersebut harus amat dibatasi. Demikian juga konsekuensi dalam pembelajarannya.
Kita sebagai guru tidak hanya berpikir gampang dan praktisnya saja, sebab menilai dan mengajarkan unsur teoretis dan historis memangjauh lebih mudah daripada yang apresiatifwalau hal itu kurang bermakna. Jika dalam sebuah perangkat tes atau tugas kesastraan terdapat soal yang berkadar apresiasi rendah jauh lebih banyak daripada yang berkadar apresiasi tinggi, hal itu menunjukkan bahwa penyusun tes yang bersangkutan lebih banyak memikirkan kebutuhan sendiri daripada kebutuhan siswa. Pembuatan tes atau tugas yang berkadar apresiasi rendah, juga pembelajarannya, jauh lebih mudah dan menghemat tenaga, pikiran, dan waktu daripada yang berkadar apresiasi tinggi karena semata-mata hanya berkaitan tagihan informasi atau pengetahuan yang dimiliki siswa.
Namun, tes dan tugas-tugas tersebut tidak begitu diperlukan siswa. Artinya, soal-soal tersebut kurang berperanan memberikan berbagai pengalaman hidup yang mendukung terbentuknya sikap dan kepribadian seutuhnya selain hanya memberatkan saja.
4.4 Bentuk Tugas Penilaian Hasil Pembelajaran
Sastra Penyadapan kompetensi siswa sebagai hasil kegiatan pembelajaran kesastraan dilakukan selama proses dan akhir pembelajaran. Penyadapan yang pertama terkait langsung dengan strategi pembelajaran, sedang yang kedua mempakan suatu kegiatan yang sengaja dirancang untuk mengukur hasil belajar selama jangka waktu tertentu, misalnya yang dikemas dalam istilah ulanganumum dan ujian akhir semeter.Bentuk-bentuk tugas dan tesmanayang sesuai untuk penilaian proses dan hasil –sebagian telah dicontohkan di atas dan sebagian lagi dicontohkan pada pembicaraan berikutkita diharapkan dapat menentukan sendiri sesuai dengan strategi pembelajaran yang dipilih. Pada prinsipnya KBK memberi kesempatan guru untuk mengkreasikan strategi dan model penilaian, tetapi dengan kendali pencapaian kompetensi-kompetensi yang telah ditetapkan secara nasional.
Ada keterkaitan pembelajaran bahasa dengan sastra terutama disebabkan sarana manifestasi sastra adalah bahasa. Selain itu, di antara keduanya terkandung tujuan untuk saling menunjang keberhasilan pembelajarannya. Saluran unjuk kerja kompetensi kesastraan adalah lewat keempat kemampuan berbahasa, dan di pihak lain penggunaan aspek-aspek tersebut juga akan meningkatkan kemampuan berbahasa. Jadi, pembelajaran dan pengembangan ujian daan atau tugas-tugas tes kesastraan terkait langsung dengan keempat kemampuan berbahasa. Dengan “meminjam” keempat saluran itu pula ujian apresiasi sastra dilakukan. Artinya, pembelajaran dan pengujian kemampuan apresiasi sastra juga akan dilakukan lewat kemampuan mendengarkan, membaca, berbicara, dan menulis. Pengungkapan kemampuan apresiasi sastra berupa latihan-Iatihan melakukan aktivitas tertentu lewat keempat saluran kemampuan berbahasa tersebut sebagai suatu bentuk unjuk kerja.
4.5 Penilaian Kompetensi Kognitif
KBK masih menempatkan pentingnya kompetensi kognitif untuk bidang kesastraan, tetapi bukan segalanya yang menyangkut hasil belajar siswa. Penilaian ini dimaksudkan untuk mengukur seberapa banyak siswa mampu menguasai bahan pembelajaran kesastraan yang bersifat kognitif. Ranah kognitif masih penting untuk diujikan karena hasil belajar bahasa dan sastra pun pada kenyataannya banyak yang melibatkan aspek itu. Dalam model penilaian sebelumnya, penilaian ranah ini menjadi yang diutamakan, bahkan tak jarang menjadi satusatunya, seperti misalnya terlihat dalam kisi-kisi pengujian yang membagi soal ke dalam tingkatan-tingkatan kognitif saja. Dalam penilaian berbasis kompetensi penilaian hasil pembelajaran sastra ranah kognitif hams juga terkait dengan keempat keterampilan berbahasa sebagai media ekspresi. Dalam kaitan ini tentu saja terjadi ketumpangtindihan denganpenilaian unjuk kerja, tetapi lebih baik terjadi tumpang tindih dengan pemfokusan kemampuan berapresiasi daripada hanya terfokus ke pengetahuan tentang sastra. Bahan yang berkaitan dengan pengetahuan tentang sastra masih boleh diujikan untuk siswa level SMA, tetapi jumlahnya hams dibatasi, dan sebaiknya terkait langsung dengan wacana kesastraan yang diujikan.
Dengan kata lain, bahan tersebut menjadi bagian dan memperkuat pengujian yang berangkat dari sebuah teks kesastraan dan karenanya masih cukup tinggi kadar keapresiatifannya. Pengujian ranah ini praktis dilakukan untuk ujian akhir,misalnya ulangan umum dan ujian akhir semester karena mudah dibuat, diujikan, dan dikoreksi. Namun, dalam praktik pengembangan soal-soal ujian tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Ada sejumlah prosedur yang hams terpenuhi agar alat ujian tersebut memenuhi kualifikasi alat yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan.Prosedur yang dimaksud adalah sebagai berikut.
Pertama, alat uji hams dibuat berdasarkan kompetensikompetensi dasar tertentu, sedang tiap kompetensi dasar tersebut berasal dari suatu standar kompetensi. Jadi, semua butir soal hams secara jelas untuk mengukur kompetensi dasar dan materi standar yang mana. Setiap kompetensi dasar dijabarkan menjadi sejumlah indikator, setiap indikator dibuat menjadi berapa butir soal, dan itu butir soal nomor berapa saja. Semua itu harus secarajelas tertulis dan ditunjukkan dalam kisis-kisi. Jadi, sebuah kksi-kisi suatu pengujian paling tidak berisi komponen-komponen standar kompetensi, kompetensi dasar, materi standar, indikator,jumlah soal, dan soal nomor berapa saja. Setelah itu, barulah penulisan butir-butir soal dilakukan.
Dalam pelaksanaan pengujian di sekolah, pengujian hasil pembelajaran sastra dilaksanakan secara integral dan bersamaan dengan pengujian hasil pembelajaran kemampuan berbahasa. Oleh karena itu,jumlah butir soal untuk masing-masing harus diperhitungkan proporsinya sesuai dengan tingkat urgensinya dalam pencapaian kompetensi hasil pembelajaran secara keseluruhan. Penulisan butir-butir soal harus tunduk pada kisi-kisi yang telah ditentukan. Butir-butir soal yang telah selesai ditulis haruslah ditelaah oleh sejawat untuk ditemukan kekurangan dan kesalahan yang selalu saja terjadi. Sebenamya, kisi-kisi pun sebelum dinyatakanjadi, terlebih dahulu harus juga ditelaah, misalnya yang menyangkut ketepatan dan kejelasan indikator, cakupan bahan,jumlah soal per indikator, dan lain-lain.
Telaah butir-butir soal mempergunakan pedoman telaah yang telah disiapkan sebelumnya, yang isinya mencakup komponen dari tiga hal utama, yaitu yang menyangkut aspek materi, konstruksi, dan bahasa dengan masing-masing dijabarkan menjadi sejumlah unsur yang dinilai (Tim Peneliti Pascasarjana UNY, 2001). Kesetiaan penulisan butir-butir soal terhadap kisi-kisi dan pertimbanganketepatan hasil telaah butir oleh sejawat merupakan salah satu jaminan tercapainya validitas isi, yaitu validitas yang harus terpenuhi dalam pengembangan sebuah alat evaluasi.Setelah diujikan butir-butir soal haruslah dianalisis untuk mengetahui indikator-indikator (dan artinya juga kompetensikompetensi dasar) yang sudah dikuasai atau sebaliknya belum dikuasai siswa. Berdasarkan analisis tes tersebut kemudian dilakukan tindakantindakan yang sesuai, misalnya dilakukan remidial terhadap bahan tertentu.
4.6 Penilaian Unjuk Kerja Kesastraan
KBK menekankan pentingnya kompetensi berunjuk kerja sebagai bagian hasil pembelajaran. Kemampuan berunjuk kerja dapat dipahami sebagai kemampuan melakukan aktivitas tertentu sesuai dengan tuntutan kompetensi mata pelajaran. Jika dalam model penilaian sebelumnya yang ditekankan adalah aspek kognitif, dalam KBK aspek psikomotor, yang antara lain berwujud kemampuan berunjuk kerja, dan afektif juga mendapat perhatian, dan secara nyata harus dilakukan dalam kegiatan penilaian dan pembelajaran. Pada diri siswa yang sedang belajar, antara ranah kognitif dan psikomotor menjalin menjadi satu kesatuan, dan hanya secara teoretis dapat dipisahkan.
Dalam penilaian hasil pembelajaran pemisahan itu dapat juga dilakukan dengan cara memberikan penekanan. Jika siswa ditugasi melakukan aktivitas tertentu yang melibatkan aktivitas psikomotor, penekanan diberikan pada kemampuan bernnjuk kerja. Namun, hal itu tidak berarti tidak terlibatkannya unsur kognitif. Dalam kegiatan berkomunikasi yang sewajamya, empat kemampuan berbahasa, yaitu menyimak dan membaca (aktif-reseptit) serta berbicara dan menulis (aktif-produktit) tidak terpisah satu dengan yang lain.
Operasionalisasi satu kemampuan berbahasa pada umumnya akan bersinggungan dengan kemampuan-kemampuan yang lain. Pengukuran kemampuan memahami sebuah wacana lisan, misalnya “mengungkapkan kembali isi cerita sandiwara radio”, dapat dilakukan secara lisan lewat kemampuan berbicara atau tertulis lewat kemampuan menulis. Sebaliknya, pengukuran kemampuan memahami wacana tertulis, misalnya “mengungkapkan kembali isi cerita pendek yang dibaca”, dapat pula dilakukan secara lisan dan tertulis. Jadi, pengukuran kemampuan mendengarkan dan membaca yang sedang menjadi fokus tujuan pembelajaran tersebut dilakukan dan sekaligus untuk mengukur kemampuanberbicara dan menulis. Dalam penilaian unjuk kerja kesastraan, siswa sebagai hasil pembelajaran juga dilakukan lewat keempat kemampuan bahasa tersebut, baik secara aktif-reseptif maupun aktif-produktif.
a. Menyimak
Kemampuan menyimak adalah kemampuan memahami gagasan pihak lain yang disampaikan lewat suara, baik langsung maupun tidak langsung lewat media tertentu. Untuk keperluan ini, siswa harns benar-benar diberi tugas untuk mendengarkan tuturan bahasa, entah yang berwujud penuturan langsung atau penuturan lewat media elektronika tertentu, dan kemudian diminta untuk menampilkan hasil pemahamannya dengan mempergunakan indikator-indikator tertentu. Pelaksanaan pengukuran kemampuan menyimak dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran dan dilakukan seeara khususyang sengaja diraneanguntuk maksud itu.
Kegiatan pengukuran yang dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran merupakan bagian teknik pembelajaran. Bahan yang diperdengarkan tentulah yang berkaitan dengan waeana kesastraan. Pengungkapan kemampuan menyimak itu dapat berwujud latihan-latihanmengerjakan tugas tertentu, misalnya berupa tanya jawab singkat mengenai waeana sastra yang didengarkan dan mengungkapkan kembali pemahaman siswa seeara lisan dan tertulis.
Pengukuran kompetensi kesastraan lewat menyimak yang dilakukan seeara khusus dapat dilakukan antara lain dengan eara: setelah mendengarkan waeana, siswa diberi soal ujian objektif dan mengungkapkan kembali isi wacana seeara lisan atau tertulis. Penentuan ketepatanjawaban siswa dilihat dari aspek gagasan dan bahasa. Cara pengujian dengan “mengungkapkan kembali” juga dapat dipandang sebagai bagian dari ujian kemampuan berbieara dan menulis.
b. Berhicara
Kemampuan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan gagasan kepada pihak lain secara lisan. Untuk keperluan ini, siswa hams benar-benar diminta untuk menampilkan kemampuan apresiasi sastranya secara lisan. Tugas ini dapat dilakukan misalnya dengan cara mengungkapkan atau menceritakan kembali secara lisan isi teks sastra yang diperdengarkan dan atau yang dibaca dan kemudian diikuti tugas berdiskusi. Walau dalam rangka ujian kesastraan, ketepatan pengungkapan gagasan hams didukung oleh ketepatan bahasa yang mempertimbangkan aspek kosakata dan gramatikal.
Pengembangan soal ujian pada umumnya berangkat dari kegiatan tulis-menulis sehingga tugas lisan tidak dapat diakomodasi secara bersamaan. Oleh karena itu, ujian kemampuan apresiasi lewat saluran lisan ini lebih praktis dilakukan dalam kegiatan pembelajaran. Menu/is. Kemampuan menulis adalah kemampuan mengungkapkan gagasan kepada pihak lain secara tertulis. Untuk menulis sebagai tugas tes kesastraan, siswa juga hams benar-benar diharnskan menulis. Secara umum ada dua macam tugas menulis yang dapat diberikan, yaitu (I) menulis sebagai hasil tanggapan terhadap teks-teks kesastraan, dan (2) menulis kreatif.
Bentuk tugas yang pertama misalnya berupa membuat parafrase puisi, membuat sinopsis novel dan cerpen, menuliskan kembali cerita drama atau sinetron yang didengar atau dilihatnya, menuliskan kembali puisi dan fiksi dengan sudut pandang lain, menyadur fiksi menjadi drama atau sebaliknya, dan lain-lain. Bentuk tugas yang kedua misalnya berupa tugas menulis puisi, cerita (pendek), atau drama sederhana. Untuk tugas yang pertama, ketepatan pengungkapan gagasan harus didukung oleh ketepatan bahasa dan ejaan, sedang yang kedua penggunaan aspek kebahasaan lebh longgar mengingat dalam sastra sering terjadi pelanggaran-pelanggaran konvensi.
Tugas-tugas menulis dapat dilakukan sebagai bagian proses pembelajaran, baik dilakukan di dalam kelas maupun di luar kelas, dan ujian khusus di luar kegiatan pembelajaran yang sengaja diselenggarakan. Tugas-tugas menulis kesastraan tidak dimaksudkan untuk membentuk siswa menjadi sastrawan, tetapi lebih merupakan latihan-Iatihan untuk berekspresi secara kreatif sekaligusmenunjangkemampuan menulis.
Sebagaimana pandangan strategi pembelajaran quantum (Quantum Learning and Teaching) yang kini mulai populer, pemberian tugas menulis haruslah disiasati sedemikian rupa dengan memberikan kebebasan kreativitas kepada siswa agar tugas-tugas itu tidak membosankan, dan sebaliknya benar-benar mampu merangsang siswa untuk berekspresi danberkreasi.
c. Membaca
Kemampuan membaea adalah kemampuan memahami gagasan pihak lain yang disampaikan lewat tulisan. Untuk keperluan ini, iswa hams benar-benar diminta membaea, memahami, dan kemudian menunjukkan hasil pemahamannya terhadap teks-teks kesatraan dengan mempergunakan indikator-indikator tertentu. Pelaksanaan pengukuran kemampuan membaea dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran dan dilakukan seeara khusus yang sengaja diraneanguntuk maksud itu.
Penyadapan kemampuan membaca yang sebagai bagian kegiatan pembelajaran adalah menjadi bagian teknik pembelajaran, misalnya berupa latihan-latihan melakukan aktivitas tertentu sehingga siswa tidak merasakannya sebagai ujian, seperti tanya jawab singkat mengenai waeana, menjawab pertanyaan-pertanyaan baeaan yang biasanya disediakan, mengungkapkan kembali pemahaman isi wacana secara lisan dan tertulis.
Kemampuan membaca yang dilatihkan untuk teks-teks kesastraan dapat bernpa membaca puisi (poetry reading), deklamasi, membaca cerpen (novel), dan membaca drama. Pengukuran kemampuan membaca yang diselenggarakan secara khusus dapat dilakukan dengan cara: (I) ujian tulis pemahaman bacaan sastra dengan bentuk soal objektif dan esai, dan (2) ujian pemahaman bacaan secara lisan dan tertulis, yaitu dengan meminta siswa untuk mengungkapkan kembali isi wacana. Cara pengujian yang kedua sekaligus dapat dipandang sebagai bagian dari ujian kemampuan berbicara dan menulis.
4.7 Portofolio
Unjuk kerja kesastraan siswa lewat aktivitas tulis-menulis juga dapat diukur dengan kumpulan tugas menulis yang dikenal dengan istilah portfolio. Tugas-tugas dalam portfolio sebenarnya tidak berbeda dengan tugas-tugas tes menulis di atas, namun dalam KBK portfolio mendapat perhatian secarakhusus. Hal itu dimaksudkan agar sejak siswa masih berastatus siswa sudah mampu menghasilkan “karyatulis”, dan produktivitas itu diharapkan terus berlanjut. Untuk itu, pembelajaran dan penilaian kompetensi apresisasi sastra haruslah meminta siswa untuk lebihbanyak menulis. Portfolio dalam pengertian adminstrasi adalah berarti kumpulan berkas dan atau arsip yang disimpan dalam bentuk jilidan, misalnya di dalam sebuah map.
Portfolio dalam pengertian pendidikan, khususnya dalam bidang penilaian hasil pembelajaran siswa berarti kumpulan hasil keIja siswa baik dalam bentuk karya tulis, tugas-tugas tertentu yang sengaja diberikan, karya seni, atau jenis karya yang lain. Singkatnya, portfolio berupa karya siswa yang mencerminkan hasil pemikiran, minat, dan usaha, serta sekaligus merekam tingkat kemajuan belajar yang dicapai dari waktu ke waktu.
Penilaian porfolio pada dasamya merupakan penilaian terhadap karya-karya individu untuk tugas-tugastertentu yang sengaja diarsipkan. Semua tugas penulisan yang dikerjakan siswa dalamjangka waktu tertentu, misalnya satu semester, dikumpulkan dan kemudian dilakukan diskusi antara siswa dan guru untuk menentukan skomya. Bahkan, dalam portfolio siswa dapat melakukan penilaian sendiri atas karyanya kemudian hasilnya dibahas. Untuk memudahkan penilaian dan atau peninjauan kembali karya siswa yang sengaja dikumpulkan, pengarsipan dapat dilakukan dengan membedakan jenis karya tulis siswa berdasarkan dua macam tugas menulis di atas, (1) karya tulis yang berupa tanggapan siswa terhadap teks-teks kesastraan, dan (2) karya tulis kreatif. Oleh karena pembelajaran sastra menjadi bagian pembelajaran bahasa (Indonesia), pengarsipan tersebut dapat dilakukan dengan mengelompokkan ke dalam (1) karya tulis nonkesastraan dan (2) karya tulis kesastraan.
Karya tulis nonkesastraan berwujudtugas-tugas menulis sebagai hasil pembelajaran kemampuan menulis yangjuga dapat dikelompokkan lagi ke dalam sejumlah jenis karya tulis seperti karangan-karangan singkat, laporan, penulisan surat, karya ilmiah, dan lain-lain sedang karya tulis kesastraan berwujud keduajenis karya tulis tersebut. Penilaian portfolio. Penyekoran untuk tiap karya tulis dapat mempergunakan model penilaian seperti yang digunakan dalam menilai tugas mengarang. Untuk menilai sebuah karangan, diperlukan ramburambu khusus yang berisi aspek yang dinilai dan skor maksimum masing-masing aspek.
Ada sejumlah model penilaian untuk sebuah karangan, dan kita tinggal memilih yang sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, model penilaian karangan yang terdiri dari komponen isi gagasan yang dikemukakan, organisasi isi, tata bahasa, gaya, dan ejaan (Nurgiyantoro, 2001). Untuk tugas-tugas menulis yang berupa “menceritakan kembali” komponen isi gagasan dapat diganti atau dikonkretkan dengan istilah “kesesuaiannya dengan teks asli”. Untuk menilai karangan karya kreatif, respon afektif guru penting, maka guru juga perlu mengasahketajaman intuitifnya.
4.8 Pengukuran Afektif
Komponen afektif selama ini kurang diperhatikan dalam rangka peningkatan pembelajaran bahasa dan sastra siswa. Penilaian cenderung lebih menekankan pada ranah kognitif dan sedikit psikomotor. Dalam penilaian berbasis kompetensi dua komponen yang kurang terperhatikan tersebut kini harns mendapat penanganan. Komponen kinerja bahasa dan sastra, sebagaimana dikemukakan sebelumnya, bahkan menjadi salah satu karakteristik tes terpenting. Komponen afektif memang kurang secara langsung berkaitan dengan materi dan keterampilan yang dibelajarkan, tetapi tetap besar sumbangannyabagi pencapaian prestasi.
Apalagi muara akhir pembelajaran apresiasi lebih tertuju pada ranah afektif daripadakedua ranah yang lain. Komponen afektif ikut menentukan keberhasilan belajar siswa walau tidak secara langsung. Siswa yang memiliki tingkat afektif yang tinggi memiliki peluang untuk berhasil jauh lebih baik daripada yang sebaliknya. Komponen afektif antara lain berupa sikap, minat, motivasi, kesungguhan belajar, dan lain-lain. Dalam rangkaian kegiatan pembelajaran komponen afektif perlu diungkap. Hal itu dimaksudkan untuk mengetahui tingkat afektif siswa terhadap kesastraan, dan terhadap siswayangberafeksi kurang diberi motivasi agar meningkat. Untuk memperoleh data informasi afektif siswa, perlu dilakukan pengukuran dengan mempergunakan instrumen yang khusus dirancang untuk tujuan itu. Jika instrumen yang dimaksud sudah ada, kita dapat mempergunakannya.
Namun, sebenarnya kita dapat mengembangkan sendiri instrumen itu sesuai dengan apa yang ingin diketahui. afektif dikembangkan dengan memberikan sejumlah pertanyaan yang disertai sejumlahjawaban. Jawaban dibuat ke dalambentuk skala, (skala Likert), misalnya 51, yang menunjukkan sikap positif ke negatif, misalnya yang menunjukkan sikap sangat senang (5), senang (4), biasabiasa saja (3),kurang senang (2), dan tidak senang (1). Untuk membuat instrumen afektif, langkah-Iangkah berikut perlu diperhatikan. (1) Pilih ubahan afektif yang akan diketahui yang dapat menggambarkan afeksi siswa (misalnya: sikap, minat, motivasi, rasa tertarik).
Pemilihan ubahan tersebut harnslah mendasarkan diri pada teori yang berkaitan dengan faktor afeksi sehingga dapat dijabarkan menjadi pertanyaan-pertanyaan yang relevan dan memiliki validitas konstruk yang dapat dipertanggungjawabkan. (2) Buat pertanyaanpertanyaan yang sesuai dengan komponen afektif yang akan diukur. (3) Telaah instrumen itu oleh ternan sejawat, dan perbaiki jika ada kekurangan. (4) Tentukan skor inventori yang menggambarkan afeksi siswa, misalnyake dalam kelompok tinggi, sedang, danrendah.

Unsur - Unsur Instrinsik prosa materi XII terlengkap

1)      Unsur Instrinsik Prosa (cerpen, novel, dan roman)
a.       Tema (Tema adalah pokok persoalan yang diangkat sebagai bingkai cerita.) Dalam karya-karya yang tebal seperti novel dan roman, di samping terdapat tema sentral, juga terdapat sub-subtema atau sub-subpersoalan yang terjalin sedemikian rupa sehingga membentuk tema yang lebih besar lagi.
b.      Amanat /pesan/nasinat (Pesan/amat terdapat pada setiap penceritaan/peristiwa. Amanat adalah pesan yang hendak disampaikan penulis/pengarang kepada pembaca) Amanat biasanya nasihat yang bernilai didik/baik yang perlu diteladani. Amanat dalam suatu karya dapat diungkapkan dengan cara eksplisit, dan dapat pula dengan cara implisit.
c.       Latar (setting). Adalah gambaran tempat, waktu, dan suasana, serta keadaan social, budaya, ekonomi, politik dan sebagainya terjadinya peristiwa-peristiwa dalam cerita.  Di mana, kapan, dalam keadaan bagaimana, yang digunakan sebagai pijakan bagi berlangsungnya suatu kisah/peristiwa.
d.      Tokoh dan penokohan/perwatakan,
Dalam cerita selalu ada tokoh/pelaku yang dikisahkan, apakah si pengarang sendiri, atau orang lain, bahkan ada juga tokoh berasal dari binatang, benda, boneka dan sebagainya. Pelaku-pelaku atau tokoh dalam cerita pada umumnya ditampilkan dengan ciri karakter/watak khas untuk mendukung jalannya alur penceritaan hingga membentuk suatu konflik yang alamiah (tidak dibuat-buat)
Strategi pengarang untuk menampilkan watak tokoh secara garis besar ada dua cara, yaitu :
·    Secara analitis; pengarang secara langsung mendiskripsikan atau menceritakan watak pelaku/tokohnya
·   Secara dramatis; penulis menggambarkan watak pelaku secara tidak langsung melalui dialog, atau reaksi pelaku lain terhadapnya.
Tokoh dalam cerita dibedakan menjadi empat, yaitu : tokoh utama (temperamen baik) disebut tokoh Protogonis. Kedua; tokoh yang melawan/menentang peran tokoh utama, disebut tokoh Antagonis. Ketiga, tokoh pelerai (tritagonis), dan keempat tokoh bawahan.(tokoh figuran)
e.       Alur atau Plot; (yaitu jalinan peristiwa yang sambung-menyambung hingga membentuk kisah atau jalan cerita).
Setiap cerita memiliki pola plot, sebagai berikut :
·   Perkenalan keadaan
·   Pertikaian/konflik mulai terjadi
·   Konflik berkembang semakin rumit (perumitan)
·   Klimaks
·   Peleraian/solusi/penyelesaian
Ditinjau dari hubungan antar peristiwa dalam alur penceritaannya, maka plot dibedakan menjadi dua, yaitu:
·   Alur erat/rapat; yaitu apabila hubungan antar peristiwa dalam cerita memiliki hubungan yang padu dan padat sehingga tak ada satu peristiwa pun yang dapat dihilangkan.
·   Alur longgar/renggang; yaitu : apabila hubungan antarperistiwa dalam cerita terjalin kurang erat sehingga ada bagian-bagian peristiwa yang dapat dihilangkan dan penghilangannya itu tidak akan mengganggu jalannya cerita.
Pembentukan alur dalam cerita dapat dilakukan dengan cara analitis, (pengisahan langsung) dan dapat juga secara dramatis melalui dialog dan adegan peristiwa, hingga terbentuklah suatu alur penceritaan.
Alur juga dibentuk dengan urutan peristiwa secara alamiah sehingga membentuk alur maju, dan dapat juga dengan sorot balik (flash back), atau bahkan dengan campuran yaitu alur maju dan sorot balik
Dalam cerita yang panjang (misalnya Novel) di samping terdapat alur utama, sering terdapat alur-alur cabang, yang disebut digresi.
Sudut Pandang (point of view), disebut juga pusat pengisahan. Sudut pandang adalah posisi/peran  pencerita/pengarangnya  dalam menyampaikan ceritanya. Dengan kata lain, sudut pandang menyangkut cara pengarang memposisikan/menempatkan diri atau posisinya dalam melibatkan diri dalam penceritaan. Apakah 


a.       pengarang dalam karya ceritanya itu melibatkan diri secara langsung atau hanya sebagai pengamat yang berdiri di luar penceritaan itu
Sudut pandang dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu :
·   Sudut pandang orang pertama
Biasanya dalam penceritaannya tokoh jalan ceritanya dikuasi oleh si pengarangnya dengan sebutan “saya”, “aku” atau nama pengarang langsung mmenjadi tokoh sentral dalam penceritaannya.
·   Sudut pancang orang ketiga
Biasa seorang pengarang memilih salah satu nama untuk menjalankan alur penceritaannya, maka biasanya tokoh dipanggil dengan nama selain nama tokoh  aku, saya, dan sebagainya, tetapi lebih memilih nama “dia” atau nama lain yang menjadi panggilan bagi pengarang.
·   Sudut pandang orang ketiga serba tahu
·   Sudut pandang ini, pengarang mengetahui seluruh tingkah-laku, pikiran, isi hati maupun apa yang dirasakan oleh para tokoh dalam cerita itu.
2)      Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik, prosa berarti unsure yang membangun/pembentuk prosa tersebut dari luar atau lingkungan luar yang mendukung terjadinya suatu cerita. Unsur luar tersebut bisa bermacam-macam, misalnya : biografi pengarangnya, kondisi social-budaya, kondisi politik, agama, moral, filsafat yang ada pada lingkungan pengarang saat menuliskan cerita tersebut. Nilai-nilai yang terkandung dalam cerita pada umumnya ditentukan melalui unsur-unsur ekstrinsik tersebut. Bisa jadi suatu novel bertema sama, namun belum tentu nilai-nilai yang terkandung di dalamnya itu sama. Hal itu tergantung pada unsure ekstrinsik yang ditonjolkan dalam alur ceritanya. Misalnya, dua novel yang sama-sama bertemakan ‘cinta’,  namun kedua novel tersebut menonjolkan nilai-nilai yang terkandung secara berbeda, perbedaan tersebut dikarenakan oleh penulis/pengarang yang mempunyai pemahaman dan penghayatan yang berbeda tentang ‘cinta’, situasi social, agama, dan latar belakang pengarang yang berbeda dalam memandang suatu persoalan.
  1. MENGANALISIS PROSA
Karya yang berbentuk, cerpen, novel, roman, termasuk jenis karya sastra prosa. Prosa dikatakan baik, jika memenuhi beberapa persyaratan antara lain, unsur instriksi dan ekstrinsik, mengandung nilai dan dikemukakan dengan bahasa yang indah. Nilai-nilai yang terkandung di dalam karya sastra antara lain nilai moral, agama, social, budaya, dan sebagainya.
Walaupun merupakan cerita rekaan, prosa tetap memiliki kebenaran (kebenaran imajinatif), karena karya prosa ditulis berdasarkan logika, pengalaman, dan pengamatan sang pujangga/pengarang. Oleh karena itu, cerita rekaan tidak jauh dari kenyataan (realistis).
Bentuk-bentuk prosa tersebut :
    1. Cerpen
Cerpen merupakan singkatan dari cerita pendek. Namun perlu diketahui, bahwa tidak setiap cerita yang pendek itu termasuk cerpen.
Karakteristik/cirri-ciri cerpen adalah :  ^ ceritanya melukiskan suatu insiden yang unik, yang tidak terjadi di tempat lain, waktu lain, dan dengan orang lain, dan tidak dapat diulang. ^ Cerpen berisi hal-hal yang tidak rutin terjadi setiap hari, misalnya : tentang suatu perkenalan, jatuh cinta, atau suatu hal yang sulit untuk dilupakan. ^ Bersifat imajinatif.
    1. Novel
Novel berasal dari bahasa Italia, ‘novella.’
Novel juga seperti halnya cerita pada cerpen, namun pada novel biasanya diakhiri dengan perubahan nasib (ending) pelakunya.
Akhir cerita nasib pelakunya bahagia disebut ‘heppyending’
Sebaliknya jika cerita diakhiri nasib pelakunya tidak bahagia/sengsara disebut ‘sedending’.
    1. Roman
Istilah roman berasal dari bahasa Perancis.  Roman mengisahkan kehidupan pelaku dari lahir sampai meninggal. Roman lebih panjang daripada novel.



Memahami Teks Seni Berbahasa
Untuk memahami suatu karya dengan baik, kadang-kadang dibutuhkan pengenalan terhadap factor-faktor ekstrinsik, seperti latar belakang kehiduppan penciptanya/pengarangnya, (misalnya, pendidikannya, pengalamannya, agamanya, haluan politiknya, ideologinya, pandangan hidupnya dan lain-lain).  Di samping itu juga dipengaruhi oleh keadaan social-ekonomi-budaya-politik, dan pada zaman/masa penciptaannya. Sebaliknya, tidak tertutup kemungkinan bahwa dengan memahami suatu karya kita akan mengenal agama penulis, pandangan-pandangan atau sikap hidup penulis terhadap suatu persoalan, keadaan social-budaya atau tradisi masyarakat yang sesungguhnya pada masa penciptaan/diciptakan dan sebagainya.
Kenyataan menunjukkan bahwa suatu karya tidak dapas lepas sama sekali dari factor-faktor ekstrinsik  tersebut. Karya yang mengambil latar (setting) zaman kerajaan tentu harus mendiskripsikan dengan tepat social-budaya-teknologi pada zamannya tersebut. Misalnya : kendaraan yang digunakan tentu saja kuda atau kereta, dan bukan bus, atau pesawat, demikian pula senjata yang digunakan juga menggambarkan zaman itu, misalnya : keris, golok, atau panah, dan bukan senapan mesin, bom TNT, nuklir dan sebagainya. Musiknya pun juga harus menggambarkan zaman itu, misalnya gamelan, bukan jaz, rok, atau dangdut. Dengan demikian tidak akan terjadi adanya ANAKRONISME (pertentangan/ketidaksesuaian) antara keadaan zaman dengan latar ceritanya.
Faktor ekstrinsik yang kadang-kadang juga berpengaruh terhadap suatu karya ialah karya lain. Tidak jarang suatu karya memiliki hubungan, atau tautan dengan karya lain, bahkan beberapa kemiripan/kesamaan dengan karya lain. Hal ini disebut dengan istilah INTERTEKSTUALITAS. Hal semacam ini bisa terjadi antara karya seorang pengarang dengan karya orang lain, dan dapat juga antara karya satu dengan karya lain dari seorang pengarang. Misalnya :  Puisi “Senja di Pelabuhan Kecil”  dan “Hampa” karya Chairil anwar menunjukkan adanya tautan peristiwa, yakni kegagalan penyair untuk menggapai cintanya ‘Sri Ayati’.
Untuk mengetahui lebih jelas dalam mengapresiasi suatu karya, maka berikut ini dapat digunakan untuk memberikan penilaian suatu karya, utamanya yang berbentuk fiksi.
Contoh kerangka membuat Resensi
I.                   Pendahuluan :
  1. Judul                            : (judul cerpen/novel)
  2. Pengarang                    : (nama pengarang/penulis)
  3. Penerbit                       : (nama penerbit buku cerpen/novel)
  4. Tahun terbit                 : …..
  5. Tebal buku      : (jumlah halaman buku cerpen/novel)
  6. Pelaku              : (nama-nama tokoh/pemeran dalam cerita)
  7. Sinopsis           : (ringkasan cerita/alur penceritaannya)
II.                Isi :
  1. Tema, apa yang diangkat dalam prosa tersebut; apakah tema rumah tangga, cinta, perjuangan, harta warisan, atau tema apa saja yang terdapat dalam cerita pada cerpen/novel yang diresensikan tersebut. Adakah kaitannya dengan sejarah, atau peristiwa nyata, khayal atau realistis.
  2. Nasihat/pesan apay yang sebenarnya hendak disampaikan kepada pembaca melalui tema tersebut, falsafah/nilai-nilai apa yang bisa dipetik, apakah nilai relegius, nilai budaya, nilai moral, nilai patriotism, dan sebagainya.
  3. Bagaimana jalan ceritanya, menggunakan alur maju atau flash back;  bagaiman alur cabang/degresinya, mengganggu alur utama atau tidak; masuk akalkah uruut-urutan kejadiannya, atau ada yang tidak masuk akal; adakah kejadian yang terlalu mengada-ada, adakah peristiwa-peristiwa mengejutkan, apakah selalu menimbulkan keingintahuan untuk kelanjutan ceritanya, konfliknya seru/tidak, penyelesaiannya masuk akal/tidak, berakhir ceritanya (sending) heppy atau sad ending.
  4. Berhasil/tidak pengarang menampilkan berbagai macam watak pelaku seperti bijaksana, sabar, licik, jahat, pemarah, pemurung, dan sebagainya. Bagaimana cara-cara/teknik, menunjukkan watak tokoh, apakah dengan dialog, deskripsi langsung, monolog, tanggapan antartokoh dan lain-lain.  Watak para pelaku konsisten atau tidak, adakah perubahan watak yang tidak beralasan.
  5. Di mana pengarang menempatkan dirinya, apakah pengarang masuk sebagai pelaku, atau hanya menceritakan orang lain, atau apakah pengarang masuk kea lam pikiran/perasaan ke dalam para pelaku (serba tahu), atau sebagai orang yang berada di luar cerita saja.
  6. Setting/latar, daerah/tempat/waktu/ruang/keadaan yang mana menjadi pengisahan dalam cerita (di mana, kapan, keadaannya bagaimana cerita itu terjadi) Untuk memberikan penilaian pada unsur ini persoalan kecocokan/ketidakcocokan antara zaman dengan isi ceritanya (anakkronisme). Termasuk situasinya/suasananya apakah riang, sedih, tegang, santai, kecewa atau berbagai persoalan silih berganti , mampukah membawa pembacanya tenggelam dalam perasaannya.
  7. Bagaiman corak pemakaian bahasanya dalam cerita tersebut, baku, kaku, serius, gaul, puitis, atau corak bahasa daerah tertentu.
 
Semua aspek yang berkaitan dengan unsur-unsur tersebut di atas lebih lengkap dan baik jika diungkapkan secara tepat dan menyeluruh. Penulis resensi jendaknya memahami semua unsur yang terdapat di dalam cerita tersebut.
 

III.                   Kesimpulan :
Bagaimana penilai secara umum terhadap suatu karya tersebut, baik atau tidak/keunggulan atau ada kekurangan, tunjukkan keistimewaannya karya tersebut, atau tunjukkan kekurangannya, perlunya buku itu dibaca atau tidak.
Dalam memberikan ppenilaian terhadap suatu karya, tidak harus menyebutkan semua unsur instrinsiknya, tetapi dapat dilakukan dengan mengulas beberapa unsur saja yang dipandang paling menarik, untuk disampaikan atau kejelaskan.
Membaca Teks Sastra
Pembahasan tentang karya sastra tidak asing lagi bagi kalian, baik itu cerpen, novel, maupun drama. Dalam suatu karya sastra terkandung pesan yang bermanfaat bagi pembacanya. Pesan tersebut dapat disampaikan secara tersurat atau tersirat.
  1. Membaca Teks Sastra
Berikut ini disajikan suatu teks sastra. Teks tersebut berupa cerpen yang dikutip dari Kompas, 9 Januari 2005.  Coba Anda baca teks tersebut di bawah ini.
ITA, SI GADIS BUKU LOAK
Oleh Nigar Pandrianto
Siang itu Ita bergegas menuju kios buku dan majalah bekas yang ada di pojokan Jalan Mawar. Di sana sudah tampak Bang Togar yang sedang membereskan tumpukan buku.
“Halo, Ita! Kamu pasti butuh buku bacaan lagi kan?” sambut Bang Togar begitu melihat Ita. Bang Togar masuk ke dalam kios. Tidak lama kemudian ia keluar dengan tumpukan buku yang langsung diletakkan di depan Ita.
“Kamu pasti menyukai buku-buku ini. Abang sengaja menyimpannya untukmu sebelum orang lain membelinya,” kata Bang Togar kemudian.
Benar saja, di tumpukkan tersebut terdapat bermacam-macam bacaan yang menarik. Ada kumpulan dongeng, komik, novel anak, dan buku cerita bergambar.
Ita buru-buru memilih buku yang diinginkannya. “Tiga buku berapa, Bang?” tanyanya setelah mendapatkan buku yang diinginkan.
“empat ribu rupiah saja untuk Ita. Ita juga boleh mengambil satu majalah lagi kalau mau,” jawab Bang Togar.
Setelah itu, Ita buru-buru meninggalkan kios Bang Togar. Ia tidak mau jika ada teman-teman sekolahnya memergokinya sedang berada di tempat itu. Ia malu jika diketahui sering membeli buku bekas di kios Bang Togar.
Tetapi, baru beberapa langkah Ita meninggalkan kios itu, terdengar suara dari arah belakang.
“Hoooiii! Ita beli buku loak! Ita gadis buku loak!
Suara itu terdengar jelas. Ita menoleh. Jelas dilihatnya Voni, Heru, dan Sinta berada di dalam mobil sambil berteriak ke a rah Ita.    
“Gawat, mereka memergokiku!” pekik Ita dalam hati. Ita pun terus berjalan sambil merundukkan kepalanya. Sebenarnya Ita ingin segera berlari dan bersembunyi. Tetapi ia tahu hal itu percuma.  Sebab anak-anak itu telah melihatnya. Akhirnya, Ita memilih untuk diam sambil berpura-pura tidak mendengar teriakan teman-temannya itu.
“Anak-anak itu pasti akan mengejekku!” bisik Ita dalam hati. Benar saja, esoknya di sekolah, Voni dan Jeru menghampiri Ita dan mulai mengejeknya.
“Haei, gadis buku loak, mana buku-buku usangmu? Kami ingin melihatnya,” kata Voni sambil tertawa.
“Kok kamu tahan membaca buku-buku berdebu itu? Aku sih bisa bersin-bersin membaca buku-buku loak itu,” tambah Heru.
Ita diam saja. Sementara itu, beberapa teman lain mulai ikut-ikutan mengejek.
“buku usang sih cocoknya untuk bungkus pisang goring saja. Ha-ha-ha- …,” tambah Adit.
Air mata Ita mulai menggenang. Tetapi ia menahan untuk tidak menangis.
Sementara itu,  Voni, Heru, dan beberapa anak terus mengejeknya. Ejekan mereka terhenti ketika Pak Tarno, guru IPS, masuk ke dalam kelas.
Di dala kelas Pak Tarno mulai mengajar. Hari itu ia mengajarkan tentang bangunan-bangunan tua yang harus dilestarikan karena mengandung nilai sejarah yang tinggi. “Selain karena mengandung nilai sejarah, bungunan-bangunan tersebut dilestarikan karena memiliki bentuk arsitektur yang unik. Bangunan seperti itu banyak sekali di kota kita,” Pak Tarno menerangkan. “Salah satu bangunan unit di kota kita adalah gedung bank yang berada di seberang taman balai kota. Hmm, adakah yang tahu?” Tanya Pak Tarno.
Tidak ada seorang pun yang mengangkat tangan.
“Wah, kalian seharusnya tahu. Masak sejarah kota sendiri tidak tahu,” kata Pak Tarno sambil berjalan keliling kelas.
“Ya, kamu Ita,” seru Pak Tarno begitu melihat Ita mengangkat tangannya.
“Itu gedung Bank Indonesia, Pak. Dulu kalau tidak salah namanya … mm…mm.. Java Bank” jawab Ita.
“Tepat! Tapi namanya bukan Java Bank, melainkan Javache Bank. Itu adalah salah satu bangunan yang hingga kini masih dilestarikan.” Pak Tarno menjelaskan. “Nah, ternyata ada juga teman kalian yang tahu. Dari mana kamu mengetahuinya, Ita?
“Dari buku yang berjudul Wajah Bandung Tempo Doeloe.”
“Wah, buku itu sangat langka! Banyak sekali sejarah kota kita yang bisa kita ketahui dari buku tersebut. Bagaimana kamu memperoleh buku itu?”
“Saya membelinya di kios buku bekas di dekat rumah, Pak.”
“Kau tahu, Ita, buku itu sangat langka. Kau harus menyimpannya baik-baik, Ita. Walaupun kamu memperolehnya dari kios buku bekas dengan harga murah, tetapi buku itu sangat berharga.”
Ita diam saja.
“Nah, kita mendapat pelajaran berharga hari ini. Ternyata pengetahuan tidak hanya bisa didapat dari buku-buku baru, tetapi juga dari buku-buku tua atau buku bekas. Jadi, jangan sekali-kali meremehkan buku-buku seperti itu.”
Wah, ternyata yang perlu dihargai tidak hanya gedung-gedung tua, tapi juga buku-buku tua…, ha-ha-ha …,” celetuk Nirwan yang duduk di bangku belakang.
“Kamu benar, Nirwan.  Baik buku baru atau buku loak tidak menjadi masalah. Sebab, yang paling penting adalah apa yang ada di dalamnya. Iya, kan?”
Sebentar Ita melirik Voni dan Heru. Keduanya hanya diam.
“Nah, untuk itu bapak akan menugaskan kalian untuk menuliskan daftar bangunan tua bersejarah yang ada di kota ini. Jika mengalami kesulitan, kalian bisa meminjam buku Ita.”
            Sorenya, sebagian anak berkumpul di rumah Ita untuk mengerjakan tugas dari Pak Tarno. Tetapi Voni dan Heru tidak kelihatan di antara mereka. Baru setelah teman-temannya pulang, kedua anak itu mencul di rumah Ita.
            “Kami ingin meminjam bukumu sebentar, Ita, untuk menyelesaikan tugas dari Pak Tarno,” pinta Heru pelan.
            Ita hanya mengangguk. Ia mengambil sebuah buku yang sampulnya sudah agak lusuh. Dalam waktu beberapa saat saja, dengan bantuan Ita, Voni dan Heru berhasil menyelesaikan tugas dari Pak Tarno.
            Sebelum pulang, Heru sempat berbicara kepada Ita. “Maafkan kami karena sering mengejekmu, Ita.  Kami berjanji tidak akan mengejekmu lagi,” ucap Heru.
            “Percayalah, kami tidak akn lagi memanggilmu gadis buku loak,” tambah Voni.
            “Ah, lupakan saja. Tidak apa-apa,” balas Ita.
            Heru dan Voni meninggalkan rumah Ita. Tinggal Ita sendirian sambil menimang-nimang buku bersampul lusuh yang sangat berharga itu. Diam-diam ia mulai bangga dengan julukan si gadis buku loak.
                                                Dikutip dari Kompas, 9 Januari 2005
Setelah membaca/menyimak cerpen “Ita, Si Gadis Buku Loak,  buatlah kelompok kerja, setiap kelompok terdiri dari 10 siswa, (1 siswa sebagai pemimpin, 1 siswa sebagai notulis, dan yang lain peserta), kemudian
diskusikan unsur Instrinsik dan ekstrinsik cerpen tersebut. Hasil diskusi laporankan kepada guru di kelasmu!
  1. Memberikan Komentar
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, komentar adalah ulasan atau tanggapan atas berita, teks sastra, dan sebagainya untuk menerangkan atau menjelaskan.
            Pada aspek ini Anda harus memberikan komentar terhadap teks cerpen yang sudah And abaca.  Komentar Anda didasarkan pada dua hal, yaitu mengomentari nilai-nilai yang terkandung dalam teks dan mengomentari makna atau pesan yang terkandung dalam teks.
Niilai-nilai yang perlu dikomentari, tentang;
  1. Nilai budaya; menyangkut adat-istiadat yang berlaku di suatu daerah atau di suatu Negara, atau suatu kebiasaan yang berhubungan erat dengan cara hidup, cara berpikir, dan cara bekerja, dan sebagainya.
  2. Nilai keagamaan; menyangkut konsep mengenai penghargaan tinggi yang diberikan oleh warga masyarakat kepada beberapa masalah pokok kehidupan keagamaan yang bersifat suci sehingga dijadikan pedoman bagi tingkah laku warga masyarakat yang bersangkutan.
  3. Nilai moral; menyangkut ajaran tentang baik buruknya perbuatan, sikap, kewajiban, akhlak, budi pekerti, dan kesusilaan yang diterima umum.
  4. Nilai social; menyangkut segala hal yang berkenaan dengan kemasyarakatan atau hal –hal yang menyangkut kepentingan orang banyak, seperti gotong-royong, tolong-menolong, hidup bertetangga, atau peduli lingkungan.
Mengomentari makna atau pesan dalam suatu teks berarti kalian mengomentari maksud pembicara atau penulis dalam karyanya, atau dapat pula kalian mengomentari pengertian yang diberikan kepada suatu bentuk kebahasaan.
Menganalisis cerpen, Ita, Si Gadis Buku Loak, diutamakan pada unsur instrinsik dan ekstrinsiknya, dengan menjawab pertanyaan di bawah ini;
  1. Sebutkan tokoh-tokoh dalam cerpen di atas, jelaskan pula penokohannya!
  2. Apa tema cerpen tersebut di atas? Jelaskan!
  3. Bagaimana alur cerita cerpen di atas? Jelaskan!
  4. Sebutkan latar atau setting dari cerpen tersebut di atas?
  5. Bagaimana gaya bahasa yang digunakan dalam penulisan cerpen di atas?
  6. Sudut pandang yang digunakan penulis dalam cerpen tersebut di atas?
  7. Apa pesan atau amanat yang hendak disampaikan penulis kepada pembacanya!
  8. Sebutkan dan jelaskan unsur instrinsik cerpen di atas!
TUGAS!
Buatlah kelompok kerja 5 – 6 siswa, carilah cerpen, kemudian analisislah unsur instrinsik dan ekstrinsiknya.



APRESIASI PROSA DAN PUISI

Apresiasi prosa maupun puisi, pada dasarnya menilai/memberikan penghargaan terhadap karya sastra yang berupa prosa atau puisi.
Guna memberikan penilaian/penghargaan terhadap suatu karya yang berupa prosa/puisi tersebut perlu menilai dari segi Internal dan Eksternalnya. Maka penilaian suatu karya sastra kita harus menilai dari kedua segi tersebut, yaitu unsur instrinsiknya dan unsur ekstrinsiknya. Pada pembelajaran sebelumnya telah dikenalkan unsur instrinsik dan ekstrinsik karya sastra yang berupa Prosa.
Unsur Instrinsik Puisi;
Unsur instrinsik puisi adalah unsur-unsur yang membangun dari dalam puisi.  Unsur pembangun puisi secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi bentuk BATIN dan bentuk FISIK puisi.  Unsur Batin puisi (hakikat) adalah isi atau kandungan yang hendak dikemukakan oleh penyair. Yang tergolong unsur bentuk batin puisi tersebut;
1)      Tema,
2)      Rasa/nada, dan
3)      Pesan/amanat
Ketiga unsur instrinsik di atas merupakan unsur batin puisi, yang tidak dipisah-pisahkan lagi keberadaannya dalam puisi.
Unsur instrinsik yang lain, yaitu adanya : 4) Rima/persajakan;  5) Ritma/irama;              6) Metrum/matra;   7) Diksi;     8) Gaya Bahasa
Suatu puisi terbangun dari unsur-unsur tersebut di atas;
1)      Tema; inti/pokok persoalan yang terkandung di dalam puisi tersebut. Tema muncul karena adanya suatu persoalan yang hendak diungkapkan oleh setiap pengarang.  Maka tema dapat berupa : keindahan, ketuhanan, kemanusiaan, kritik sosial; kegagalan; kebencian; perjuangan; kebahagiaan hidup; penderitaan hidup; kekecewaan dan sebagainya.
2)      Rasa dan nada; bagaimana perasaan penyair terhadap objek atau persoalan yang dikemukakan kepada masyarakat/pembaca, mungkinkah merasa iba, geram, benci, sabar, merendahkan diri, khusuk, pasrah, menentang, ragu, penasaran, kecewa, sinis,  dan sebagainya.  Banyak dijumpai puisi yang bertema sama, namun nilai rasanya berbeda. Puisi “Padamu Jua”  dan “Doa” karya    Amir Hamzah, sama-sama bertema “ketuhanan,”  tetapi terasa jauh berbeda rasa dan nadanya.  Coba anda cermati puisi berikut dan jelaskan perbedaannya.


PADAMU JUA
Di mana engaku?
Rupa tiada
Suara Sayup
Hanya kata merangkai hati.
                Engkau cemburu
                Engkau ganas
                Mangsa aku dalam cakarmuu
                Bertukar tangkap dengan lepas
                Nanar aku, gila sasar
                Sayang berulang padamu jua …    
 
                       

DOA
           Denga apakah kubandingkan pertemuan kita,
           kasihku
           Dengan samar spoi, 
           pada masa purnama meningkat naik,
           setelah menghalaukan panas payah terik
           …
           Hatiku terang menerima katamu, 
           bagai bintang memasang lilinnya
           Kalbuku terbuka menunggu kasihmu,  
                                                                                 bagai sedap malam menyirak kelopak
                                                                                 …


3)      Pesan/amanat; nasihat apa yang hendak disampaikan oleh pengarang kepada pembacanya/penikmat, atau nilai-nilai apa yang hendak ditanamkan kepada pembacanya. Pesan pada puisi pada umumnya terikat oleh tema puisi itu sendiri. Pesan/amanat biasaya merupakan nilai-nilai yang layak dipetik atau perlu diteladani.
4)      Rima/persajakan; persamaan bunyi antarkata/antarbaris. Persamaan bunyi vocal disebut Asonansi.  Persamaan bunyi pada konsonan disebut : Aliterasi.  Persamaan bunyi dapat di awal, tengah, atau akhir kata/baris.  Perhatikan contoh berikut ini :
a.       Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
b.      Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
c.       Lalu waktu bukan giliranku
Mati hari bukan kawanku
d.      Hatiku terang menerima katamu bagai bintang memasang lilinnya
Kalbu terbuka menunggu kasihmu bagai sedap malam menyirak  kelopak
5)      Ritma/irama; alunan naik turun, panjang pendek, atau keras lemahnya bunyi yang berulang-ulang atau berurutan sehingga membentuk keindahan.  Ritma tercipta oleh adanya perimbangan jumlah frasa, kata, atau suku kata pada setiap baring ungkapan dalam puisi tersebut. Perhatikan contoh berikut;
a.       Pagiku hilang/sudah melayang
Hari mudaku /sudah pergi
Kini petang/datang membayang
Batang usiaku/sudah tinggi
Adanya pula puisi yang iramanya ditandai oleh adanya pengulang kata yang sama dalam setiap baris untuk mengikat/menyatukan beberapa baris belakangnya, perhatikan contoh berikut;
b.      Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Rwmuk
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing… (Doa, Chairil Anwar)
6)      Metrum/matra; pengulangan tekanan pada posisi-posisi tertentu yang bersifat tetap. Dalam lagu metrum ditandai dengan garis birama, dan tekanan keras pda umumnya jatuh pada awal setiap birama.
7)      Diksi; pilihan kata secara cermat dari segi bunyi maupun makna sehingga menjadi wahana ekspresi yang maksimal dan bernilai estetis. Karena tiap kata memiliki nuansa makna yang berbeda, kata-kata yang sudah tepat dalam suatu puisi biasanya sangat sulit diganti dengan kata lain.
8)      Majas/gaya baahasa (bahasa figurative); cirri ata kekhasan kebahasaan yang digunakan oleh setiap penulis yang mencakup penggunaan struktur kebahasaan, pilihan kata, ungkapan, peribahasa/bidal/pepatah dan sebagainya yang dibangkitkan oleh penulis sehingga akan menimbulkan efek tertentu bagi pembacanya.